Google PageRank
   



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



8/18/2010
Tomi dan burung pendongeng

Tomi adalah anak kecil yang sangat nakal . Ia senang sekali menyakiti hewan, terutama burung. Tiap hari ia selalu membawa ketapel untuk memburu burung-burung yang hinggap di pohon. Tiap kali ketapelnya kena sasaran, Tomi langsung tertawa senang. Ia kemudian pergi begitu saja, meninggalkan burung yang jatuh terluka di tanah.

Suatu hari Tomi bermain agak jauh dari rumah. Ia berjalan menuju tepi hutan larangan. Masyarakat desa tidak ada yang berani pergi ke hutan itu. Tapi Tomi yang nakal tidak peduli. Ia segera mencari burung-burung yang sedang beristirahat di dahan pohon.

Cuit cuit cuit…Tiba-tiba terdengar suara burung pipit bernyanyi merdu sekali. Warna burung itu juga sangat indah. Bulunya berwarna oranye dengan bintik-bintik putih. Ekornya hitam dan paruhnya berwarna kuning. Tomi terkesima melihat burung cantik itu. Belum hilang rasa kagum Tomi, burung itu bernyanyi lagi, tapi kali ini agak berbeda.

Wahai hutan yang asri
Wahai pohon yang rindang
Hari ini aku bernyanyi
Menghibur hati kalian
lalalala…lilililli..

Tomi segera mengarahkan ketapelnya ke burung tersebut dan Pluk..! Burung itu jatuh terkulai ke tanah. Tomi mendekati burung tersebut.
“Apa kau burung ajaib?” Tanya Tomi.
“Bukan..” Burung pipit itu menjawab lirih. Sayapnya patah terkena ketapel Tomi.
“Lalu mengapa kamu bisa berbicara?” Tanya Tomi lagi.
“Jika kamu ingin tahu, bawalah aku pulang, dan rawatlah lukaku. Setiap hari sampai lukaku sembuh, akan aku ceritakan satu rahasia yang tak kau ketahui.”
Sebenarnya Tomi enggan merawat burung itu. Tapi karena ingin mengetahui rahasia, ia pun membawa pulang burung pipit itu.

Sampai di rumah, Tomi segera mengambil kapas, obat merah dan perban untuk mengobati sayap si burung pipit. Tentu saja sambil menggerutu. Setelah diobati, burung pipit itu dimasukkan ke dalam sangkar.

Esoknya Tomi bangun pagi-pagi sekali. Ia tak sabar ingin segera mendengar cerita tentang sebuah rahasia.Burung pipit yang masih mengantuk kaget mendengar suara Tomi.
“Ceritakanlah kepadaku satu rahasia.” Ujar Tomi.
“Oahm… Nanti saja, aku masih mengantuk.” Si burung pipit menjawab sambil menguap. Tomi yang tak sabar langsung mengguncang-guncang sangkar burung itu. Akhirnya burung malang itu mengalah. Ia menarik napas panjang dan mulai berkicau.
Cuit cuit..akulah si burung pipit
Cuit cuit..dari desa tempat  menanam bibit
Cuit cuit.. seluruh warga disihir oleh nenek Ipit
Cuit cuit..termasuk aku si burung pipit..

“Jadi kamu dulu manusia?” Tanya Tomi penasaran.
“Iya. Dulu aku seperti kamu. Suka membawa ketapel dan memburu burung-burung kecil. Karena itulah aku disihir menjadi burung.”
“Apakah menjadi burung itu menyedihkan?” Tanya Tomi.
“Tentu! Terutama jika kalian sedang memburu kami.” Tomi  menunduk. Merasa bersalah.
“Tapi ada enaknya juga lho. Aku bisa terbang ke seluruh dunia dan berbicara dengan hewan lain.”
“Ceritakan padaku.. Ceritakan padaku..”
Cuit cuit..cuit cuit..

Tomi menunggu si burung pipit meneruskan kicauannya. Tapi tak keluar kata apa-apa lagi selain kicauan biasa. Tomi tahu bahwa ia harus menunggu esok untuk mendengarkan cerita dari si burung pipit. Setelah memberikan makan dan minum, Tomi pergi bermain. Kali ini ia tidak membawa ketapel. Ia berniat hendak menjadi anak baik. Namun di tengah jalan, ia tergoda untuk membunyikan petasan. Membuat kaget kucing-kucing yang sedang tidur di atap rumah. Tomi tertawa senang melihat kucing-kucing itu berlarian kesana kemari.
Esok harinya Tomi kembali menagih janji kepada burung pipit. Burung pipit pun mulai bercerita.

Terbang tinggi ke negeri gajah putih
Menemukan binatang besar dan tinggi
Hidungnya panjang sekali
Sikapnya lembut dan baik hati

“Waaaw..apakah negeri gajah putih itu jauh?” Tanya Tomi sambil berdecak kagum.
“Jauuuuh sekali. Melewati lautan yang luaaas dan pulau-pulau kecil. Tapi gajah-gajah disana baik hati. Mereka membiarkan aku duduk di punggung mereka.”
“Apa enak menjadi gajah?” Tanya Tomi lagi.
“Gajah yang aku temui, tinggal di jalanan kota. Mereka dipaksa tuannya membuat gerakan-gerakan lucu agar diberi uang. Padahal mereka tidak cocok tinggal di kota. Terlalu bising, katanya. Kadang aku lihat sesekali mereka menangis sedih.
“Oh..oh..” Tomi tertunduk. Ia ingat kemarin telah mengagetkan kucing menggunakan petasan. Pasti kucing-kucing itu juga menangis sedih.

Hari demi hari berlalu. Tomi mendengarkan banyak dongeng dari burung pipit ajaib. Mulai dari dongeng tentang burung kasuari di Sulawesi, kanguru di Australia, panda di Cina, hingga cerita tentang beruang di kutub utara yang hampir kehilangan tempat tinggal. Hingga suatu hari saat Tomi hendak mendengarkan dongeng lagi, ia melihat burung pipit pendongeng sudah tak ada lagi di sangkar. Ia mencari kesana kemari tapi tak juga menemukan burung itu. Dengan perasaan sedih, Tomi berjalan keluar dan duduk di tepi jalan. Ia diam termenung memikirkan si burung pendongeng. Tiba-tiba dari atas pohon terdengar suara burung pipit kesayangannya.
Cuit cuit…
Cuit cuit..

“Burung pipit!” Seru Tomi kegirangan. “Ayo kita pulang. Aku akan memberimu makanan dan minuman yang lezat.”
“Tomi yang baik. Terimakasih atas kebaikanmu merawat lukaku. Sekarang aku sudah sembuh dan ingin berkelana keliling dunia. Setiap bulan, aku akan mengunjungimu dan menceritakanmu kisah menarik tentang dunia. Selamat tinggal Tomi…”
Tomi sedih sekali ditinggalkan oleh burung pipit sahabatnya. Namun meski burung Pipit telah terbang pergi, sebagai sahabat ia tak melupakan janjinya. Ia selalu datang sebulan sekali untuk menceritakan pengalamannya selama berkelana. Dan sejak bersahabat dengan si burung pendongeng, Tomi tak lagi berbuat nakal kepada semua hewan.

*simpanan dongeng untuk diceritakan ke anakku yang cantik, Lalitya Namu Wangundahina.


 

 

 

 

 

 

 

 

 


Posted at 12:55 am by erra
your comment (1)  

11/22/2009
Ibu hamil Nggak Boleh Dipijat?

Menjelang trisemester ketiga apalagi yang dikeluhkan ibu-ibu hamil selain pegaaal.. Menggendong 2 kg dedek bayi di perut kemana-mana tentu bukan hal mudah. Sempat beberapa waktu lalu dua orang ibu hamil gaul (bisa ditebak siapakah itu) memutuskan untuk pergi ke salon untuk creambath. Kan lumayan ada pijat punggung colongan tuh. Tapi sepertinya itu belum cukup karena setelah melihat ada fasilitas pijat refleksi kaki, buru-burulah kami menambahkannya sebagai bagian dari treatment yang diminta.

Memang sebelum ke salon, kami berdua sudah tahu bahwa ibu hamil itu pantang dipijat di daerah perut, pinggang, dan pinggul. Ketiga bagian itu rentan dengan kontak langsung pada bayi di kandungan. Kalau toh boleh, pemijatan harus dilakukan oleh ahlinya yang mana biayanya mahal sekali :(

Walhasil, dua jam kemudian kami keluar salon dengan wajah seperti orang yang baru saja dapat pencerahan dari Mario Teguh hehe. Bengkak di kaki pun menghilang berkat pijat. Namun esoknya temanku menelepon dan mengatakan kalau pijat refleksi itu berbahaya. OMG! Tapi benarkah pijat refleksi berbahaya?

Dari beberapa artikel yang diubek-ubek di dunia maya, aku mendapatkan keterangan semacam ini:

Pijat di bagian perut, pinggang, dan perut harus dilakukan oleh orang yang mengerti seluk beluk kandungan dan tidak boleh dilakukan sembarangan. Yang harus diperhatikan antara lain :
* Pada saat dipijat jangan sampai terjadi kontraksi, apabila terjadi kontraksi segera hentikan aktivitas pijat tersebut.
* Pastikan kandungan tidak sedang bermasalah.
* Untuk menjaga hal yang tidak diinginkan, lebih baik pijat dilakukan pada usia kehamilan 5 bulan ke atas.
* Yang paling penting, pijat dilakukan oleh terapis/orang yang mengerti dan terlatih dalam hal pijat ibu hamil.

Manfaat pijat bagi ibu hamil antara lain :

* Dapat membetulkan posisi bayi ke bentuk yang seharusnya (sekali lagi, ini harus dilakukan oleh terapis yang benar2 terlatih)
* melancarklan peredaran darah sehingga memberikan relaksasi pad aurat dan saraf
* melancarkan metabolisme tubuh

Pijat telapak kaki (refleksi) juga perlu diperhatikan karena ada saraf-saraf yang berhubungan dengan rahim. Pastikan ketika pijat tidak terjadi kontraksi dan masalah lainnya. Dianjurkan tidak melakukan pijat refleksi kaki. Bagian tubuh yang boleh dipijat dan tidak berisiko adalah betis, tangan, punggung, dan leher.

Thanks God. Ternyata jawabanku di telepon benar! Saat itu aku bilang: Yang penting nggak kontraksi kan mbak. Mudah-mudahan aman dan baik-baik saja.

Jadi memang dilarangnya kegiatan pijat memijat ibu hamil ini erat kaitannya dengan kontraksi. Tak ada kontraksi, amanlah proses pemijatan tersebut. Tapi kalau mau garansi aman dan murah, silakan malam-malam sebelum tidur, memeluk suami masing-masing dan berkata: Sayang, pijitin punggungku doonk ;p

Posted at 01:44 am by erra
your comments (2)  

Next Page