Your Ad Here





Google PageRank
   



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



2/19/2012
repost: Akulah Pemerkosanya

Akulah Pemerkosanya

Banyak warung kopi di sepanjang rel kereta itu, tapi yang paling ramai dikunjungi hanya warung kopi milik Yu Suni. Entah karena anak putrinya yang montok itu selalu tersenyum kepada para lelaki langganan warung itu, atau karena minuman buatan Yu Suni yang luar biasa enak. Yang pasti, semakin malam warung kopi Yu Suni malah semakin ramai.

"Yu, masih ada nggak topi miring-nya?" Seorang pria ceking bersorot mata lusuh bertanya pada Yu Suni. Suaranya serak, telah habis oleh seharian meneriaki anak buahnya yang tak becus memalak sopir angkot. Jess jess jesss. Suara kereta terdengar lirih, tanda kereta malam jurusan luar kota hendak lewat di rel kereta depan mereka. Orang-orang yang berasyik masyuk di sepanjang rel bergegas membereskan dagangannya dan 'dagangannya'. Beberapa perempuan menor hanya menutup dadanya saja lalu berjalan minggir menuju jalan raya. Rambutnya masih kusut dengan bibir belepotan gincu yang tak lagi rapi menghiasi bibir tebal hasil suntik di salon murahan. Tukang minuman dan tukang rokok pun bergegas menyunggi kotak kardus berisi minuman dan rokok. Sudah sekitar sepuluh kali mereka melakukan rutin seperti itu malam ini. Belum seberapa, biasanya bisa sampai dua puluh kali sehari.

Seorang tukang rokok yang sudah uzur sempoyongan menyeret kardusnya. Sementara deru kereta semakin mendekat meter demi meter. Lonte tua yang sedari tadi belum mendapatkan klien menyongsong kakek tukang rokok itu dan membantunya menggotong kardus yang isinya sudah jatuh barang satu dua. Yu Suni yang ikut cemas menyaksikan pemandangan itu jadi lupa akan permintaan Tarjo, pria ceking yang katanya punya ilmu kebal senjata.

"Yuuu...satu botol lagi.." Ucapan Tarjo tenggelam dalam alunan riang gesekan roda besi dengan rel. Kereta Cirebon Express baru saja melesat santai. Terlambat empat jam dari jadwal, tapi menurut orang-orang yang nongkrong di rel, justru itulah jadwal rutin kereta penuh coro (kecoak, red) itu lewat. Dan terlambat satu detik saja, lelaki tua penjual rokok itu mungkin akan mengikuti nasib keenam temannya yang sebulan lalu terlindas hidup-hidup di rel yang sama, dengan kereta yang berbeda.

Mereka berenam tertabrak kereta Argo Muria yang sebelumnya tak pernah sekalipun lewat di rel itu pada jam 2 malam. Kata orang-orang LSM, pihak PT. KAI-lah yang bersalah dengan tidak konsistennya penggunaan jalur kereta. Sementara menurut direktur PT.KAI, orang-orang seperti penjual rokok renta dan lonte tua itulah yang tak seharusnya berkegiatan di rel kereta. Tapi segala macam komentar itu tak pernah sampai di telinga mereka. Karena hanya koran berharga dua ribu-lah yang memuat ucapan-ucapan dari para petinggi tersebut. Sementara orang seperti Yu Suni dan Tarjo hanya tertarik membeli koran limaratusan yang cuma memuat gambar mayat-mayat yang berderet kaku di kamar mayat. Dengan judul besar warna-warni bertuliskan : Lagi Mabok-Mabokan dan Gituan, Eh..Mati Dilindas Kereta.

"Nyoh..ndak usah nambah lagi nanti mabok." Yu Suni akhirnya memberikan juga apa yang jadi permintaan Tarjo sejak dua menit lalu. Mata Tarjo berkilap senang. Tak ada yang lebih menyenangkan baginya, selain melayang dengan menggenggam botol minuman keras dan membayangkan dirinya menjadi sekuat Gatotkaca. "Otot kawat tulang wesi hahahahaha." Begitu selalu teriaknya girang sesaat setelah cairan bening berbau seperti bensin itu mengikat partikel-partikel dalam darahnya. Membentuk hormon-hormon kegirangan yang tak dapat ditahan. Jika sudah begitu, orang-orang memilih duduk diam di kursi yang agak jauh darinya. Begitu lebih aman daripada harus tiba-tiba menerima tamparan atau tendangan cuma-cuma oleh gatotkaca gadungan itu.

Imah, anak putri Yu Suni, sedari tadi berdiri mengelap piring sambil menatapi pria yang diam di sudut warung. Pria baik yang menurutnya tak pantas duduk berjajar dengan Tarjo atau pria lain yang kerap mengusilinya. Ia tak sekalipun memesan topi miring, tak juga menyentuh lonte-lonte. Selalu mengulang cerita gembira tentang ia dan istrinya. Dan selalu indomie rebus tanpa telur yang ia pesan. Padahal katanya hari ini ia dapat rejeki banyak. Pasti lagi-lagi ia belikan baju cantik buat istrinya, atau dibelikan kalung emas berkemilap untuk dipasangkan ke leher jenjang istrinya. Ah..

Gerombolan banci baru datang. Make up mereka sudah luruh. Wig yang tadinya terpasang rapi sekarang sudah ditenteng di tangan. Jalan mereka pun kembali tegap.
"No, traktir kita dong. Lu kan abis menang togel." Ujar Maria -nama aslinya Marijan- yang masih berlagak gemulai. Yang dipanggil No mengibaskan tangannya. Selain tidak suka dimintai uang, ia juga risih dipegang banci.
"Halah, ndak ada. Sudah habis buat keperluan istriku."
"Kamu tuh terlalu nurut sama istri. Kita yang capek kerja, sekali-kali bolehlah seneng-seneng pake uang sendiri." Anita alias Andri -yang paling kekar diantara para banci itu- berusaha membuat Warno bimbang, pria biasa yang berprofesi sebagai anjel itu. Anjel, antar jemput lonte.

Dulu sekali Warno tak pernah mau menjamah lonte-lonte pinggir rel itu. Sekolahnya di pesantren dan ia sangat menghormati perempuan. Tapi sekarang harum bedak dan parfum murahan menempel lekat disela kaos bututnya yang sarat keringat. Istrinya mahfum. Karena Warno -bagaimanapun seringnya bertemu lonte- masih penuh nafsu saat mendekatinya. Berarti ia masih cinta. Begitu pikir istri Warno.

Yu Suni, demi melihat orang-orang mulai kebosanan, segera mengeraskan suara televisi. Ada film murahan tengah malam yang selalu berhasil menunda kepergian laki-laki dari warungnya. Benar saja, sekeliling akhirnya tampak khidmat menyaksikan tontonan itu. Ternyata itu memang acara favorit mereka. Lalu terdengar gelak tawa. Celotehan jorok menimpal riang, dan Tarjo mengambil kesempatan menyubit pantat Imah yang njengking (nungging, red) mengambil botol minuman di bawah meja. "Ahhh." Sontak Imah menjerit kaget dan melotot ke arah Tarjo. Yu Suni gantian melotot ke arah Imah. Simboknya selalu saja membela pria-pria kurang ajar itu. Menurut simbok, pembeli adalah raja yang sah melakukan apa saja. Akhirnya dalam dendam yang tak habis-habis, Imah menundukkan muka dan meniriskan mie yang ada di panci. "Mah..Mah. Suaramu itu lho. Bikin kita-kita tambah ngaceng. Uuooh." Tarjo berkomentar dengan tangan bergerak naik turun dan seperti menggenggam sesuatu. Gelak tawa seluruh penghuni warung menggema sampai ke sudut kursi, tempat Warno duduk diam. Imah menunduk semakin dalam. Meski begitu sempat dilihat Warno memandanginya panjang dan penuh rasa iba. Kemarahan Imah sedikit reda. Setidaknya diantara sekian pria yang kurang ajar, masih ada yang menghargainya.

Maria sendiri menyimpan tawa iri dalam setiap gelaknya. Selama ini harus susah payah ia menggoda para pria agar mau dengannya. Sering karena tak bisa memilih, pria kasar pun ia relakan untuk menjamahnya. Biru lebam sudah jadi langganan. Kadang bukan oleh ulah pria kasar, tapi oleh polisi yang menggaruknya, lalu oleh gerombolan pria iseng yang hanya penasaran dengan 'makhluk' seperti dirinya.

Andri, banci kekar, tertawa puas. Baginya hanya cubitan di pantat atau susu-lah yang bisa mengakhiri kemunafikan para perempuan. Berlagak tak mau padahal doyan. Memasang muka suci padahal hati mereka busuk. Jadi jangan salahkan dirinya jika di malam hari mobil para perempuan yang melintas di depannya, disapa dengan batu atau sandal miliknya.

Imah tak lagi njengking. Ia dengan gerakan yang kaku mengambil botol-botol minuman untuk diletakkan di meja. Setengah berjongkok, setengah berdiri. Tapi tak jadi beda bagi Tarjo. Sebagaimanapun gerakan Imah, tetap terbayang Imah yang pasrah di dipan kayu miliknya. Hanya menggunakan beha yang hampir melorot karena tidak dikancingkan dengan benar. Ahh...Imah.

Layar televisi menampilkan lenggokan binal perempuan yang dalam ceritanya dibohongi oleh sang pacar. "Ah..abang jangan suka bohong dong. Kan aku jadi sebel." Suara mendesah bintang film murahan yang manja itu diikuti oleh gerakan tubuhnya mencondong ke dada si lelaki. Lelaki itu berekspresi aneh. Tentu saja. Dada si wanita itu hanya tertutup setengah! Imah menangkap kemesuman yang menjadi-jadi di mata Tarjo. Ia mundur dan menghampiri simboknya.
"Mbok, Imah pulang saja ya.."
"Wheladhalah..terus simbok suruh jaga warung sendiri?"
"Imah ..." Terhenti kata-kata Imah. Tak tahu harus berbicara apa.
"Dasar malas kamu itu. Tiap hari selalu minta pulang cepat. Ndak kasian sama simbok to nduk? Simbok ini sudah tua..sudah ndak tau mau kerja apalagi.."
Imah mundur pelan-pelan dan mulai lagi mengelap gelas-gelas. Yu Suni masih ngomel kesana-kesini perihal kemalasan Imah. Padahal kejujuran dalam hatinya hanyalah takut warung akan sepi jika Imah pulang. Hanya Imah yang mampu menarik pelanggan yang tidak seberapa itu. Tanpa Imah kehidupannya hanya akan semakin miskin saja.

Warno memandangi Yu Suni dengan kesal. Ia segera berdiri dan mengambil lembar limaribuan dari kantong sakunya. Yu Suni menerima uang itu sambil setengah menggerendeng. "Pulang jam segini lagi Mas Warno. Nggak betah ya.."
"Enggak Yu. Cuma capek saja." Lalu Warno segera berlalu sambil menarik napas panjang.
"Tuh..gara-gara kamu pelanggan kita pulang cepat." Bisik Yu Suni kasar di telinga Imah. Imah jatuh harapan demi melihat Warno pulang cepat. Tak ada lagi kekuatan yang menopang hatinya untuk melalui malam ini dengan pria-pria hidung belang itu.
Sementara Yu Suni dalam diamnya berkata,"Hanya tinggal hari ini aku mengomel, Mah. Besok kamu akan sedikit lebih mengerti apa itu hidup." Ia merapalkan kalimat harapan itu sambil menatap Tarjo.
"Tak ada lagi lain. Hanya itu caranya." Bisik Yu Suni ke hatinya sendiri.

---

"Sudah pulang Mas?" Istri Warno menyambut.
"Sudah."
"Kemarin uang menang togel itu aku belikan kalung mas. Coba lihat.." Istri Warno menangkap kemuraman di mata suaminya.
"Kenapa to..kok wajahnya ditekuk begitu."
"Itu lho. Orang-orang pada nggak punya adat semua. Mosok Imah.."
"Imah??" Istri Warno menyela kasar. Ia sudah sering mendengar gosip kalau suaminya sering membela Imah. Selalu ditepisnya. Tapi sekarang saat ia sudah berdandan untuk suaminya, sama sekali tak dihiraukan. Hanya demi memikirkan nasib perempuan penggoda laki-laki itu.
"Denger dulu. Aku itu ndak suka aja orang-orang melecehkan Imah. Gimanapun dia manusia to."
"Ya..ya. Manusia yang cantik, yang sempurna..Ya to. Ndak kayak aku ini..Sudah dandan, masih juga ndak dilirik."
"Aduh bu. Kok malah cemburu sama Imah. Aku itu cuma kasian saja. Masak ndak boleh sih bu."

Istri Warno menepis pegangan tangan suaminya. Hatinya sakit mendengar kata-kata Imah dari mulut Warno. Terdengar lebih merdu dibanding saat Warno melantunkan namanya.
"Malam ini aku pengen sendiri Mas. Terserah kamu mau kemana." Istri Warno melancarkan ultimatum pertamanya. Warno hanya bisa mendesah lemas. Dibukanya pintu depan dan segera saja bayangannya berlalu dari bilik kecil di dekat rel kereta. Istri Warno duduk tersedu-sedu. Suaminya bahkan tak lagi memohon. Ia lebih memilih udara luar dan deru kereta malam dibanding pelukannya.

Belum lagi berjalan sepuluh meter, Warno mendapati siluet tubuh berlekuk indah berjalan mendekatinya dengan tergesa.
"Imah!" Serunya. Pertama ia merasa grogi bertemu gadis manis itu, tapi setelah hanya satu meter jaraknya dari Imah, ia terperanjat.
"Imah..kamu kenapa?"
"Mas...tolong saya mas..tolong saya." Rambutnya acak-acakan. Bajunya entah terobek siapa, bulatan didadanya tampak menyembul dibalik buku-buku jarinya yang merapat. Warno sekuat mungkin menahan diri.
"Kamu kenapa Imah? Kamu kenapa?"
"Tarjo..Tarjo.." Terkulai lemas seonggok manusia cantik di lengan Warno. Kepanikan menjalar hingga ke pori-pori tubuhnya.
Gabungan antara cemas dan terangsang membuatnya menggigil di siku dan lutut. Tak mungkin membawanya pulang, atau meninggalkannya disini. Membawanya ke suatu tempat? Warno berupaya bangkit dan menggendong Imah menuju ke..tak tahu dimana, hanya saja menjauh dari jangkauan Tarjo, si preman itu.

Hanya menemukan rerimbun pohon pisang di kebun milik Haji Malik. Aliran keringat membasahi sekujur tubuh Warno, juga menetes ke sembulan milik Imah. Warno mengerang bimbang. Tak satu saja lonte yang menggugah berahinya. Pula istrinya. Hanya teduh mata Imah yang membuatnya buru-buru pulang demi menyelesaikan khayalannya. Asal cepat pulangnya, bayangan Imah akan mampu menutup matanya akan segala biasa yang dimiliki istrinya. Tapi ia bukanlah pria-pria seperti Tarjo. Meski miskin, tak sekalipun dicobanya minum alkohol demi kesenangan. Jadi tak seharusnya pula ia menjamah kesempatan terlarang hari ini.

"Mas..." Imah tersadar oleh titik keringat yang menetes ke dadanya. Dilapnya dengan ujung kain yang robek. Warno membuang pandangan ke arah jalan.
"Mudah-mudahan Tarjo tidak tahu tempat ini."
"Ini dimana?" Imah bertanya sambil berusaha bangkit duduk. Kedua tangan menyangga badannya. Warno yang hendak menjawab pertanyaan Imah, menoleh dan kemudian melihat jelas bulatan dua yang selama ini digambar oleh khayalannya. Sedikit lebih kecil, tapi sangat ranum.
"Ah.." Imah tersadar dan kembali menutupinya dengan kedua tangan. Celana dalam Warno terasa sempit, tapi hatinya belum.

"Kamu tunggu disini. Saya pulang dulu mengambil baju istri saya..."
"Tapi aku takut mas." Wajah Imah menggigil. Keringatnya menetes berbulir-bulir. Warno menarik napas dalam-dalam.
Dikuatkan pikirannya agar mendapatkan jawaban yang tepat.
"Kalau begitu, kamu pakai kaos saya saja dulu." Hendak dibukanya kaos lusuh miliknya. Tapi tangan Imah menahan.
"Jangan..."
"Kenapa?" Warno memasukkan kembali kaos itu ke lehernya. Saat kepalanya menyembul, muka Imah sudah menatap dekat sekali darinya. Napas harum Imah mengurungnya dalam ketidaksadaran. Tangan lembut Imah menggapai keras buku jarinya. Mengajaknya menuju ketelanjangan Imah yang merekah.
"Imah..kenapa?" Warno masih menguatkan pendiriannya.
"Aku sengaja."
"Tapi.."
"Ssst..dengarkan aku." Imah berkata sambil mengelus bawah Warno. Napas Warno menderu kencang, tapi Imah masih tampak santai meneruskan ucapannya, "Simbok menyuruh Tarjo memerkosaku. Simbok menyuruh Tarjo membuatku jadi perempuan dewasa. Aku tak mau itu terjadi. Aku membunuh Tarjo dengan tali…"
"Apa!" Warno bukan kepalang kaget. Ia sedikit mundur dari jangkauan Imah. Hormatnya pada Yu Suni memang sudah hilang sejak ia mengijinkan orang-orang menjamah Imah demi seribu rupiah tambahan. Tapi kenekadan Imah membuatnya tak percaya. Imah menariknya kembali dalam jarak yang tak lagi berjarak. Tarjo masih terus bertanya, mungkin memang ingin tahu, atau ingin menghilangkan dentuman yang menjadi-jadi di jantungnya. Dentuman gairah.
"Aku tak mau memunggungi takdir. Suratan nasibku memang hanya bisa menjadi lonte demi sedikit nyaman buat hari tua simbok. Aku tak punya lain." Imah menatap Warno dalam tajam. Tak lagi terlihat Imah yang lugu di mata Warno. Di depannya adalah Imah yang lain. Dekapan Imah lalu menariknya seperti magnet, dalam ketidaksadaran emosi.
"Tapi kenapa saya, Mah?" Warno masih mencari jawabannya meski bawah sadar sudah mengisyaratkan kehausan akan penungguan yang tercipta di depan mata.
"Karena..aku ingin melakukannya pertama kali dengan orang yang aku cinta." Warno tersedak. Ia tak sedang bermimpi jadi tak bisa berusaha bangun. Ia terdiam kelu.
"Kenapa Mas. Kamu ndak suka?" Imah dengan napas menderu memelorotkan celana pendek Warno. Warno sudah tak punya daya. Hilang oleh kebimbangan.
"Aku ndak tega Mah. Kamu.."
"Kamu lebih tega aku diperawani orang lain yang tidak aku cintai..Lalu kemudian terpaksa melayani lagi ribuan pria yang bukan saja tidak kucintai, tapi malah tidak kukenal?" Sambil berkata begitu, bibir Imah mendekat jarak dengan bibir hitam Warno.
"Aku.."
"Ssst..Ajari saja aku Mas. Ajari untuk jadi dewasa."

Warno mendapati Imah telah begitu pasrahnya. Lembar demi lembar tersingkap pelan oleh tangan Imah sendiri. Termasuk kaosnya, termasuk celananya, termasuk rasa manusianya. Gairah Warno sirna perlahan. Diakhirnya malam yang selalu ia impikan itu dengan menutup mata, membayangkan istrinya. Bulatan-bulatan daging itu terasa duri. Ia telah membantu Imah menjadi Lonte. Lewat sikap baik yang memesona hati perempuan lugu ini. Lewat tatapan cinta yang ia lontarkan dalam diam di sudut meja. Lewat pembelaan yang ditatapkan dari matanya ke mata Imah..
"Akulah pemerkosanya." Bisik Warno dalam irama nafsu. "Akulah pemerkosanya. Akulah pemerkosanya!!"

Esok dan beratus esok, kasus pembunuhan Tarjo tetap tidak terungkap. Warno tetap menjadi Anjel. Penghasilannya masih pas-pasan dan selalu disetor ke istrinya. Ribuan lonte pun telah diantarnya menuju pria-pria rakus. Salah satunya kini bernama Imah. Dan meski seratus esok berganti, ia tak sedikitpun menjamah lonte-lonte itu, termasuk Imah, lonte cantik yang telah jadi primadona itu.

Posted at 07:04 pm by erra
your comments (2)  

Chibi

Mengenang Chibi adalah mengenang perempuan mungil yang ceria. Tiap langkahnya penuh harap dan ucapannya penuh mimpi. Termasuk ketika ia mengajakku dengan mata berbinar, menonton Malena.

Aku yang di masa itu hanya mengetahui film-film lokal dan cukup puas dengan sinetron, mengiyakan saja ajakannya. Meski saat menonton pertama kali, aku bertanya-tanya kenapa ia bisa terobsesi pada sosok Malena yang secara ironis justru tersiksa oleh kelebihan yang ia miliki. Tapi beberapa lama setelah itu, aku bisa mengerti apa yang ia kagumi dari sosok Malena. Dan Chibi...lebih dari itu. Tak hanya kecantikan khasnya, kisah hidupnya adalah inspirasi bagi yang lain termasuk aku.

Saat itu ia bercerita selintas saja kepadaku tentang anak kecil gelandangan, yang tiba-tiba saja minta dipeluk olehnya. Padahal Chibi dengan outfit seperti biasa -jilbab dan jaket hitam- makan semangka dan duduk di kursi tunggu KRL, menanti kereta arah Jakarta. Aku mendengarkan ia bercerita namun ia hanya berkata itu saja. Anak kecil itu minta dipeluk padahal badannya kotor tak pernah mandi. Begitu kira-kira ucapannya. Aku lalu menjawab, justru dia minta dipeluk karena dia tahu kamu wangi, Chi. Chibi lantas menoleh padaku dan dengan mata bulatnya mengerjap dan berkata, oh mungkin juga ya..

Lalu terciptalah cerita ini, enam tahun silam. Dimana pertemananku dengannya menjadi masa terbaik diantara beban perkuliahan yang menekan pikiran.

Sayonara, Chibi kecil. Memori tentangmu tetap akan mewangi dalam ingatan, hingga suatu saat kita bertemu lagi sebagai jiwa-jiwa yang tenang. Amin.


Peluk Aku

Aku kesiangan. Setelah malam sampai dini hari terjaga karena ramai yang dibuat tetangga, aku kesiangan. Lalu buru-buru cuci muka, gosok gigi, mandi, dan berhandukan dan pakai baju. Setiap hari begitu. Setelah malam sampai dini hari terjaga karena ramai yang dibuat tetangga.

Tapi aku beruntung. Setiap hari pula, KRL yang hendak membawaku ke tempat kerja selalu terlambat. Setiap menit aku terlambat, setiap dua menit kereta itu lebih lambat menghampiri stasiun Depok. Jadi aku masih bisa membeli tiket, berjalan tergesa menuju tangga, memberikan limaratus rupiah pada anak kecil yang menegadahkan tangannya, dan duduk di sebelah kios kecil.

Esoknya aku kesiangan lebih siang lagi. Kali ini tetanggaku lebih ramai lagi dan hendak saling membunuh. Terpaksa aku hanya cuci muka dan gosok gigi, lalu bergegas pergi. Tapi setiap menit aku terlambat, setiap dua menit kereta itu lebih lambat menghampiri stasiun Depok. Karenanya aku masih bisa membeli tiket, tersandung kaki ibu muda yang menyorongkan mangkuknya untuk diisi seribu rupiah, berjalan tergesa menuju tangga, memberikan limaratus rupiah kepada anak kecil yang menegadahkan tangannya, dan membeli minuman dingin, lalu duduk di sebelah kios tempat aku membeli minuman dingin itu.

Saat KRL baru menunjukkan moncongnya di sepuluh meter sebelum stasiun Depok, orang-orang sudah rapi berdiri di garis merah. Tukang minuman tak kalah gesit. Menyela di antara ibu muda berpantalon dan bapak berkemeja, sudah biasa ia. Ibu muda dan bapak berkemeja juga sudah terbiasa. Makanya aku juga jadi terbiasa. Copet! Seorang copet menyelinapkan dompet ibu muda itu dibalik gulungan korannya. Tapi aku sudah terbiasa. Makanya esok hari saat aku kesiangan, aku tak lagi memakai dompet. Kugunakan buku agenda untuk menyelipkan lembar-lembar lima puluh ribuku.

Tapi esok -saat aku menyelipkan lima puluh ribu dalam buku agenda- aku disibukkan oleh kejadian yang tidak biasa. Meski awalnya aku tetap mencuci muka, gosok gigi, mandi, berhandukan dan memakai baju, tapi setelah membeli karcis dan bergegas menuju tangga, aku tak sengaja menatap wajah anak kecil yang menegadahkan tangannya. Mukanya tampak cemoreng oleh arang-arang hitam. Bibirnya menyembunyikan merah. Tertumpuk oleh sengatan matahari membuat kulit luar bibir kecil itu menjadi ungu. Dan tiba-tiba saja anak itu tersenyum. Tersenyum padaku.Tentu saja aku tidak tersenyum membalas. Aku selalu langsung duduk di kursi stasiun setelah memberi uang limaratusan. Jadi, aku tidak tersenyum.

Tapi ternyata anak kecil yang menegadahkan tangannya itu mengekori aku. Kemana aku jalan, pula saatku duduk. Gerakanku ditirunya, aku menoleh ke kanan membuang muka, ia menoleh ke kiri, menatapi wajahku -sambil tersenyum. Aku -hari ini- jadi disibukkan oleh kejadian yang tidak biasa. Sibuk menoleh ke kanan kiri, membuka-buka harian pagi, lalu pura-pura menelepon siapapun. Lalu KRL yang selalu lebih lambat dua menit dari keterlambatanku, datang juga. Ingin menoleh ke anak kecil itu. Tapi karena setelah duduk di kursi stasiun aku langsung rapi menunggu KRL di garis merah, maka aku tidak menoleh.

Esoknya, aku tidak kesiangan. Tapi tetap aku cuci muka, gosok gigi, mandi, berhandukan dan memakai baju. Dan karena langkahku sudah teratur, maka aku sampai di stasiun terlalu pagi. Tetap aku membeli tiket, tidak tersandung ibu muda yang mengacungkan mangkuknya -mungkin ibu itu belum bangun- dan aku berjalan gegas menuju tangga. Anak kecil itu tidak ada. Karenanya kumasukkan limaratus kembali ke kantung baju. Lalu aku duduk di sebelah kios yang masih tutup. Aku menatapi satu-satu anak rel yang mulai retak. Kuhitung dari ujung yang paling tak bisa kulihat, sampai depan mataku. Hanya ada 30. Dan tiba-tiba di sudut mata kulihat anak kecil yang selalu menegadahkan tangannya, melakukan hal yang sama.
"Ada 31, kak." Begitu ucapnya. Aku melengos dan mulai menghitung tiang-tiang.
" Ada 5, kak." Begitu ucapnya. Aku menunduk dan mengeluarkan HP. Haha, dia tak akan bisa mengikuti gerakanku lagi!
"Aku tak punya HP, kak." Aku menghentikan gerakanku memainkan tuts HP. Kumasukkan benda kecil itu dan kuhela napas panjang-panjang.
"Kakak wangi." Aku hanya butuh sebuah KRL lewat, dan berakhirlah kesibukan aneh ini. Karena setelah duduk di kursi stasiun, aku selalu berdiri rapi di garis merah.
"Peluk aku kak." Aku tak mendengar apa-apa! Sinting! Setelah bertahun-tahun melakukan rutin yang teratur ini, tiba-tiba ada anak kecil entah darimana, memintaku memeluknya? Aku mulai terganggu dengan interupsi semacam ini.
"Aku pergi, kak." Akhirnya....pergi juga. Lalu aku menunggu KRL di garis merah, dan masuk ke dalamnya dengan menyimpan pertanyaan berjuta-juta.

Esoknya aku bangun dan membasuh muka. Kutatap wajah kering di dalam cermin. Putih olesan krim tabir surya tak mampu menutupi pucatnya. Aku menghela napas, mencoba tersenyum barang sedikit. Hmm..sedikit lagi..sedikit lagi. Ahahaha. Konyolnya aku ini. Menertawai rupa sendiri dalam cermin. Tapi menyenangkan juga mengetahui bahwa aku memiliki mata yang bersinar dan bibir kemilau. Hanya tinggal tambahan blush on pink di pipi, eye shadow warna cerah, sedikit maskara..hmm..ternyata aku cantik juga ya. Aduh lupa..aku belum mandi! Antara bangun pagi dengan memakai baju kali ini membutuhkan waktu lebih lama dari rutin yang aku lewati. Tapi karena aku tidak bangun kesiangan, aku senang saja. Terlebih, senang mengetahui kalau bangun pagi bukanlah sia-sia. Dan mungkin saja..memeluk anak kecil itu juga bukan sia-sia. Siapa tahu ia hanya anak kecil tak pernah mandi yang ingin sedikit tertempel Vanilla L'occitaine milikku. Atau, ia sudah lama tidak dipeluk oleh ibu. Atau, ia memiliki keinginan terakhir sebelum mengakhiri hidupnya, dan akulah si terpilih itu. Ah, semoga tidak. Semoga ia hanya iseng ingin memeluk perempuan dewasa. Dan sejak 16 jam memikirkannya, aku memutuskan untuk tidak masalah memeluk anak kecil itu. Mungkin bajuku akan sedikit bau, tapi tak apa-apa.

Lalu aku melangkahkan kaki menuju loket, membeli karcis, memberi uang seribuan dan tersenyum pada ibu muda itu. Dan tidak tergesa, aku melangkah menuju tangga. Dan anak kecil itu tidak ada! Tuhan..jangan sampai ia mati sebelum memelukku. Atau aku akan sangat merasa bersalah. Menjadi murung dalam keseharian, dan tak lagi mau naik kereta. Aku melangkah menuju kursi stasiun dengan lunglai. Lalu kemudian...
Sial! Bukannya mati mengenaskan karena jatuh dari atap KRL, anak kecil itu malah nyengir ke arahku sambil memeluk seorang perempuan cantik yang wangi. Setelahnya ia pergi begitu saja, berlari melewati dengan muka ceria, dan tidak se-inchi pun menoleh padaku. Bodoh bodoh bodoh! Kenapa harus menghabiskan waktuku mempertimbangkan keinginan seorang kecil asing. Aku bahkan tak tahu namanya! Dengan malu kuakui bahwa ide memeluk anak kecil itu bukanlah buruk -sebelum anak itu memeluk perempuan lain!-. Mungkin aku bisa bercakap-cakap dengannya. Mengetahui bahwa ia memiliki IQ 140, lalu berusaha mencari cara agar ia bisa sekolah lagi. Lalu aku bertemu para pekerja LSM. Dan aku mengenalkan anak itu sebagai adik angkatku. Bibirnya tak lagi hitam, wajahnya juga sudah putih berseri. Lalu ia diterima di sekolah elit dengan beasiswa. Lalu ia mengunjungiku setiap pekan dengan berbagai cerita baru. Dengan hari ini ia meledakkan tabung kimia, dan besoknya ia berpacaran dengan temannya yang pendiam, lalu esoknya lagi dibawanya pacarnya untuk aku ajari bicara. Dan sesekali ia memintaku untuk memeluknya sambil berkata,"Kakak...aku sayang kakak."

Lalu aku kembali dalam nyata. Duduk di kursi stasiun, menunggu KRL. Memalingkan muka kepada nenek peminta-minta. Berdiri di garis merah bersama lainnya, dan naik KRL dengan susah payah. Seperti biasa. (5/19/2005)

Posted at 08:26 am by erra
comment  

Next Page