o~my little garden~o






::My Stories::

   



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:







9/2/2008
Hari Paling Aneh dalam Hidupku

Hari itu aku terlibat salah paham dengan seseorang. Aku pikir ia hendak mengajakku hang out dengan teman-temannya. Tapi ternyata itu adalah acara jumpa pers yang dirancang santai.

Tak perlu aku jelaskan bagaimana salah paham itu terjadi. Yang pasti tiba-tiba aku sudah berada di sebuah acara makan malam mewah berbalut puji-pujian kepada seorang pengusaha muda sukses. Sementara yang lain berjas dan berpakaian resmi, aku hanya memakai sepatu keds, celana jeans, dan kaos oblong bertuliskan "suku anak dalam".

Awalnya aku tak merasa ada yang salah dengan hal itu. Justru itulah aku. Seorang pekerja lapangan yang keluar masuk hutan atau ladang. Tapi malam itu, aku merasa untuk menggerakkan kaki saja rasanya canggung. Diantara kumpulan orang-orang berbaju resmi, aku seperti boneka sawah diantara bulir-bulir padi. Jelek, kumal, dan mencolok! Sejenak aku bahkan berpikir jika menahan napas, mungkin aku bisa menghilang tiba-tiba. Jelas saja itu hal yang mustahil. Akhirnya aku mengirimkan pesan pendek kepada seseorang yang mengajakku. Ia tengah sibuk mencari nara sumber di tengah kerumunan para pengusaha muda.
"Gosh, I'm lost in space… "
Lost in space. Kata-kata itu juga sempat terucap seorang teman yang tak kunjung mendapat kepastian kerja di kantorku. Ia seorang kameramen handal yang bekerja penuh dedikasi. Tapi kebijakan kantor, membuat ia susah mendapatkan sepotong seragam. Sepotong pengakuan. Karena itu ia enggan datang ke kantor hanya karena terlihat beda. Dulu aku tak paham bagaimana keminderan itu bisa muncul. Ia kenal hampir separuh rekan di kantor. Dan mereka semua mengakui hasil kerjanya. Tapi sejak pengalaman hari yang aneh ini, aku bisa memahami hal itu.

Seragam. Keseragaman. Entah itu berbentuk baju atau kesamaan ide, adalah hal pertama yang akan dilihat saat hendak memasuki sebuah komunitas tertutup. Kedatangan orang asing, entah apa motivasinya, akan dianggap aneh. Seperti malam itu, aku ditanya oleh seorang PR.
"Darimana mbak?"
"umm…" Aku sedang tak memakai seragam kantorku. Dan jelas, aku memang tak akan bisa mengaku dari media, karena aku tidak sedang ditugasi meliput. Dan rasanya aneh sekali mengaku datang hanya karena diajak seorang teman. Tapi itulah yang kukatakan. Si PR man lantas berpaling tanpa menanyai apapun tentangku, motivasiku datang atau apa sajalah yang membuatku merasa memiliki hak membela diri. Rasanya ingin menjerit saja sekalian dan membuat mereka semua tahu bahwa aku adalah intruder. Lalu mereka mengusirku keluar sehingga aku bisa segera menghirup napas kebebasan di luar sana. Tapi itu hanya berlaku di film-film. Dunia nyata lebih erat mengikatku dalam norma-norma. Terutama kewajiban menjaga nama baik orang yang telah mengajakku ke tempat itu.  Aku pun memaku kaki di satu tempat sambil mengirit persediaan air minum di gelasku. Jika habis, niscaya tak akan ada 'pekerjaan penting' lagi yang bisa kulakukan.

Sambutan demi sambutan diucapkan orang-orang yang tak memiliki arti dalam otakku. Pengusaha ini, pengusaha itu. Bosku saja tak kuanggap penting, terlebih saat mengingat keadaan suku anak dalam di Jambi. Padahal malam itu ia datang diantara kerumunan pengusaha-pengusaha sukses dalam negeri. Aku hanya bisa mengingat wajah pengusaha yang dielu-elukan oleh mereka.

Acara ramah tamah pun selesai dan aku diajak ke ruang makan. Ia berkata hendak bertemu pengusaha muda, dan itu artinya adalah press release. Aku seharusnya tanggap dan menolak ajakannya untuk masuk. Tapi aku terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga tak mengerti maksudnya. Salah paham kedua pun terjadi. Aku kembali masuk ke dalam komunitas khusus. Dimana seorang asing akan sangat mudah terlihat bedanya. Terlanjur basah kuyup. Aku hanya bisa diam sambil berusaha menikmati keanehan itu.

Disini aku sadar, segala kelebihanku apapun itu, sama sekali tak bernilai di tempat ini. Fakta bahwa aku juga seorang jurnalis, tertampik begitu saja. Aku pernah membuat novel? Sama sekali tidak penting. Itu adalah acara khusus untuk wartawan ekonomi dan aku jelas-jelas tak punya kepentingan disitu.

Tiba-tiba aku berpikir, mungkin seperti ini pula yang terjadi kala kita mati. Beberapa hal yang terlihat membanggakan di dunia, belum tentu diperhitungkan di alam akhirat nanti. Mungkin pencapaianku hingga bisa membuat beberapa episode di televisi akan luput ditanyakan malaikat disana. Menurut cerita, mereka akan lebih konsentrasi menanyakan sikapku dalam menghadapi orang yang kesusahan.  Pengemis di jalan, tetangga yang tertimpa musibah, atau teman yang butuh pertolongan. Atau bisa jadi, ia akan menanyakan hal sederhana. Apa yang kau lakukan saat temanmu mengeluh tentang pembedaan perlakuan yang ia terima hanya karena tidak memakai seragam? 
"Aku menyuruh ia bersabar dan mencegahnya melakukan hal-hal frontal."
Di hari yang aneh itu aku memang berhasil mencegah diriku sendiri untuk berteriak atau kabur tiba-tiba. Tapi tetap saja ada rasa kesal di hati yang tak hilang-hilang. Khayalan tentang pertanyaan malaikat itu saja yang meredam perasaanku yang campur aduk.

Dan jangan herankan bagaimana aku bisa berpikir sejauh itu. Semua sudah terlanjur aneh. Jadi berpikir sedikit aneh, takkan jadi masalah besar.
Yang pasti, seaneh apapun sebuah hari, ia akan tetap setia memberi pelajaran bagi hidup. Dan di hari itu, kudengar ia berbisik tentang sisi lain kehidupan. Kehidupan orang-orang yang 'tak terlihat' oleh mata kita.  Itu saja. Dan tiba-tiba aku merasa bisa menertawakan kejadian di hari itu.

Posted at 04:36 pm by erra
your comment (1)  

7/4/2008
SETEGUK MOKE DI KAKI INERIE

 

Rumah adat bagi suku yang satu ini, bukanlah sekedar tempat bernaung. Rumah adat adalah simbol persekutuan wilayah dan keluarga.

Saat itu bulan Mei baru menyapa Bajawa, Nusa Tenggara Timur. Di kaki gunung Inerie, sebuah upacara pemugaran rumah adat segera dimulai. Puluhan babi dan lima ekor kerbau, menjadi tanda pengorbanan bagi eksistensi klan bhogo metu.

 

Suku Ngada telah lama bermukim di Bajawa, Nusa Tenggara Timur. Mereka tersebar di setiap sudut kota Bajawa. Seluruh sendi kehidupan mereka lekat dengan simbol-simbol  dan ritual,  termasuk dalam upacara pemugaran rumah adat klan bhogo metu.

 

Upacara ini berpusat di kaki gunung Inerie. Undangan telah disebar ke seluruh kerabat yang terikat pertalian darah atau pernikahan. Upacara rumah adat ini seperti mengumpulkan kembali keluarga yang terserak, menuju tempat awal mula moyang mereka tiba, yaitu aimere. Setelah rapi berdandan dengan baju adat, beberapa keluarga datang ke halaman rumah tuan rumah. Kegembiraan bertemu kembali dengan sanak kerabat, diungkapkan dengan sangaza.

 

Sekilas sangaza terdengar seperti suara orang marah. Dengan mengacungkan pedang, wakil klan berteriak di mikorofon. Tapi teriakan ini sebenarnya tak lebih dari sebuah pantun perkenalan. Pemimpin rombongan menyebutkan berapa hewan kurban yang dibawa, dan dari klan mana mereka berasal. Setelah itu tari Ja'i pun dimulai untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar suku Bajawa. Tanpa sangaza dan tari Ja'i, anggota rombongan tidak akan boleh mengikuti ritual upacara adat.  

 

Gerakan tari Ja'i terkesan sederhana. Kaki bergerak mengikuti irama musik tradisional. Pada hitungan tertentu tangan yang memegang bulu ayam diacungkan seperti gerakan burung yang hendak terbang. Ya, Tari Ja'i memang melambangkan gerakan elang yang terbang bebas. Tapi kemanapun mereka terbang, pasti akan kembali ke sarang. Begitu pula suku Ngada. Mereka banyak merantau ke luar kota, bahkan ke negeri jiran. Namun sejauh apapun berkelana, mereka tetaplah anggota suku Ngada, yang terikat tata aturan adat. Terutama yang berkaitan dengan upacara adat.

"Hari ini puncak perayaan diadakan dengan kabuku Sao, robokei, ruwu pepo, dan lain sebagainya untuk mempersatukan, mempererat persatuan dan kesatuan antar welu epo maupun sewo ili (saudara sekandung maupun karena ikatan pernikahan)." Begitu ucap Titus Bhogo, tuan rumah acara.

Lalu ia menambahkan, "Yang datang tidak bisa hanya sekedar memenuhi adat. Prinsip leluhur, e sangatta mae masa. Kita panggil satu, semua harus datang. Biar lagi nasi dan daging, hanya sepotong saja jadi nikmat. Moke, kabo'o, makan sepiring kenyang. Ini melambangkan persatuan dan kebersamaan. Karena kita diikat oleh satu leluhur yang sama."

 

Begitu pentingnya kebersamaan, di tiap perjamuan tuan rumah harus selalu ikut makan. Begitu juga kerabat yang datang. Meski sedikit, setidaknya ada segenggam nasi atau seteguk moke (minuman tradisional NTT) yang dicicipi.  Perjamuan dalam upacara adat ini disebut bama, atau makan bersama.

 

Sekilas, tak ada yang istimewa di acara makan ini. Kerabat yang berpakaian adat rapi, makan lahap di sisi kanan pintu. Sementara itu kerabat lain duduk di kiri pintu, sambil menerima moke yang dituang di batok kelapa. Beberapa orang ada yang memilih duduk di beranda. Susunan ini bukan tanpa arti. Mereka masih terikat sistem kasta yang disebut rang. Pembedaan strata ini terlihat jelas saat acara adat seperti ini. Rang tertinggi yaitu rang ga'e, bisa duduk dimana saja. Sementara yang lain harus pintar mencari posisi yang sesuai.

 

Yang paling nyata, pembedaan kasta bisa dilihat dari perhiasan yang digunakan. Kasta selain ga'e tidak boleh menggunakan gelang gading atau perhiasan emas. Sistem kasta di suku ini tetap kokoh berlaku, tak tergusur oleh nilai lain termasuk agama.

Pater Ansel Doredae, pastor yang juga warga suku Ngada mengatakan bahwa keunikan sistem kasta di suku Ngada muncul dengan sendirinya tanpa pengaruh agama. Sistem ini muncul karena kebutuhan yang muncul dari dalam masyarakat itu sendiri. Hendrikus Nainawa, sesepuh suku Ngada juga menambahkan bahwa pada awalnya tak ada pembedaan kasta. Tapi huru-hara yang timbul akibat tindak kejahatan yang terjadi, ternyata dapat dihentikan oleh pembentukan kasta semacam itu. Akhirnya tradisi itu berlanjut hingga sekarang.

 

Meski percaya nenek moyangnya datang dari India, tapi adat istiadat mereka tampak lebur dengan budaya lokal. Termasuk sistem matrilinear atau garis ibu.  Simbol feminin terdapat di berbagai tempat-tempat penting suku Ngada. Di rumah adat utama terdapat perapian yang selalu dijaga oleh perempuan. Padahal tak sembarang orang bisa masuk ke rumah adat utama tersebut. Sistem matrilinear ini terkait dengan pola hidup suku Ngada. Jaman dulu kebanyakan dari mereka tinggal di hutan. Bahaya yang mengancam dari alam dan dari musuh, membuat mereka harus menjaga perempuan sebagai penerus keturunan.

 

Tak heran jika hingga kini lelaki suku Ngada menempati peran-peran aktif seperti menjadi ahli nujum atau pemimpin upacara. Sementara para perempuan tetap sibuk menjaga perapian. Bara api di dapur utama ini tak boleh sedetikpun mati. Mereka percaya jika bara api sampai mati, maka akan terjadi hal buruk di keluarga tersebut.

 

Yang paling menarik dari pesta adat klan bhogo metu ada di hari kedua.  Pagi-pagi sekali panitia mengumpulkan ternak kerbau di tiang pamali. Upacara penebasan binatang ternak hanya bisa dimulai jika sudah mendapat restu dari kakak tertua tuan rumah,

Menurut pengakuan tuan rumah, Titus Bhogo, di masa lalu saat upacara pemugaran rumah adat, halaman bisa penuh sesak oleh ratusan kerbau dan babi. Tapi jaman sekarang mereka mengaku sudah mengikuti saran dari pemerintah daerah.

"Kita sekarang mengadakan pesta adat lebih santun dan lebih terhormat." Begitu ucapnya sambil menyisip moke dari batok kelapa.

 

Hari cerah pertanda baik bagi upacara potong kurban atau kaba mano. Namun kelihatannya hati tuan rumah belum yakin, bila belum memastikannya lagi lewat nujum yang diadakan di bhaga. Kembali nujum dilakukan, tapi kali ini menggunakan media anak ayam. Setelah dibakar di api, urat daging anak ayam dibaca oleh sang ahli nujum. Di hari pertama upacara, pembacaan di hati babi mengguratkan ganjalan karena ada setetes darah tumpah. Nujum tersebut terbukti hari ini. Tak lama setelah prosesi penebasan kepala kerbau, beberapa kerabat ada yang pulang dari acara karena hendak melayat keluarga lain yang meninggal.

 

Kepercayaan terhadap simbol juga terlihat dari begitu hormatnya mereka terhadap simbol nenek moyang. Bhaga yang berbentuk seperti rumah kecil adalah simbol ibu yang menaungi segenap suku Ngada. Sementara itu Ngadu tempat kerbau ditambat adalah simbol bapak suku. Bentuk Ngadu seperti payung yang dibuat dari jerami.  

 

 

Sejatinya, di upacara semacam inilah kekuatan anggota suku Ngada dilatih. Kerbau adalah hewan yang mampu mewakili kekuatan musuh-musuh mereka. Di masa lalu, kekuatan dan kekompakan adalah dua syarat mutlak untuk bisa bertahan hidup.

 

Meski tak lagi berhadapan dengan masa lalu, tak banyak yang berubah dari adat suku Ngada. Norma, tata aturan dalam upacara, hingga pembagian hewan kurban pun masih tetap sama. Tuan rumah mendapat bagian kepala dan salah satu kaki. Daging sisanya dikumpulkan di satu tempat, dipotong-potong, dan pada akhirnya dibagi kembali ke para kerabat. tanduk kerbau nantinya akan digantung di bhaga dan rumah adat.

 

Darah kerbau yang ditampung di bambu, dioleskan di tiang pemali sebagai wujud penghormatan kepada nenek moyang.  Bagi mereka merahnya tiang pemali dan deretan tanduk kerbau adalah tanda keutuhan dan eksistensi masing-masing klan. Tradisi sesajian ini diperkirakan telah ada sebelum budaya megalitikum masuk.

 

Menurut Pater Ansel, pastor sekaligus antropolog, sesajian itu untuk dipersembahkan kepada wujud tertinggi atau roh. Dulu biasa dilakukan di dalam rumah adat. Setelah kultur megalitikum tiba, datang bersama migrasi di suku Ngada, upacara adat semacam ini dipindahkan atau dilokalisir di mezbah-mezbah.

 

Tradisi memberi kurban persembahan tampaknya berpengaruh terhadap keseharian suku Ngada. Bagi mereka, pantang memotong hewan lantas memakannya sendiri tanpa berbagi. Karena itu meski upacara pemugaran rumah adat ini hanya ditujukan bagi keluarga, mereka juga mengundang klan lain di sekitar kampung.

 

Para tetua dari klan lain pun menyambut undangan itu dengan gembira.  Sesaat setelah undangan disampaikan, mereka berkumpul di depan rumah adat dan menyanyikan lagu perkenalan.

 

Lengkap sudah kegembiraan tuan rumah. Bersama para tetua akhirnya ia memulai prosesi terakhir. Ia berjalan mengiringi tandu yang diisi nasi. Nasi dalam wadah besar tersebut dibawa mengelilingi Ngadu, bhaga, dan mezbah. Klan lain mengikuti iring-iringan tuan rumah, dengan membawa tandu berisikan nasi juga. Hanya saja jumlahnya tak seragam, disesuaikan dengan kemampuan tiap klan.

 

 

Kebersamaan semacam ini bisa bertahan karena pembauran yang rumit antara adat dengan agama. Hanya di tempat inilah ditemukan lukisan Yesus dipajang di kepala karena alasan mode. Meski begitu, gotong royong dalam menjalani upacara juga cermin utuh ajaran katolik, agama yang mayoritas dipeluk suku Ngada saat ini. Pun, acara puncak ditutup dengan makan bersama yang menyerupai perjamuan agung.



Untuk prosesi terakhir ini, Pater Ansel berkomentar bahwa selain  pertentangan, ada juga praktek suku bangsa asli yang paralel dengan ajaran katolik. Seperti misalnya upacara-upacara kurban. Sesajian di mezbah pun mirip dengan sesajian di altar gereja Katholik. Karena itulah, masih menurut Pater Ansel, kultur ini bertahan meski kadang bercampur secara sewenang-wenang dengan ajaran agama.

 

Meski hubungan antara adat dan agama tampaknya begitu rumit, namun tak ada yang terlalu ambil pusing akan masalah ini. Bagi mereka kelangsungan hidup suku Ngada lebih bergantung pada bagaimana cara mereka mempersatukan diri dalam satu aturan yang sama. Upacara pemugaran rumah adat bernama Sao Longa Zia yang diakhiri dengan makan bersama, tentu saja hanya simbol dari kebersamaan itu sendiri. Nasi yang dimasak tidaklah sampai tanak. Daging pun hanya direbus seperlunya. Setelah dibagi, mereka akan kembali mengolah makanan tersebut sesuai dengan selera masing-masing.  Tapi selama dua hari ini, mereka telah menemukan kembali sanak kerabat yang terpencar di berbagai penjuru. Kegembiraan yang begitu hangat. Seperti hangatnya seteguk moke di tengah pelukan udara dingin gunung Inerie.

 

Posted at 09:12 pm by erra
your comment (1)  

6/4/2008
DAN KINI...

Dan kini aku kehilangan teman-teman mayaku. Di saat langkah kaki berjalan menuruni bukit-bukit di So'e. Tongkang kecil lambat memecah ombak samudera Hindia. Aku berteman dengan angin darat.

Ketika tangan tak lagi lincah menekan tuts komputer. Aku alpa menyapa teman-temanku lewat kata-kata.

 

Ah. Hidup memang penuh pilihan sulit. Dulu aku bisa tertawa riuh hanya karena rentetan kata-kata yang seakan berubah menjadi wajahnya yang tertawa. Menemukan teman yang sempat hilang di belantara Kalimantan. Membicarakan mulai dari teori psikoanalisis sampai keinginan membuka privat bioskop.

 

Tapi kini aku juga menemukan sejuk diantara cekikikan orang Boti yang membicarakanku dalam bahasa Dawan.

Ucapan terima kasih karena diliput..

Sms yang menanyakan kapan datang lagi..

Sms minta kirim pulsa supaya bisa ngobrol..

 

Ah..                                                      

 

Lalu aku semakin jauh dengan pembahasan mengenai pengaruh BBM bagi masyarakat, bentrokan di Monas, dan perdebatan Sunni-Syiah atau Ahmadiyah. Aku hanya tahu kalau orang Karo itu tidak termasuk suku Batak. Atau bilangan biner yang dipakai sebagai simbol suku Dayak Bumi Segandu, adalah simbol penciptaan semesta.

 

Apakah aku semakin melayang-layang di udara, atau malah rapat menjejak sejarah? Hampir saja aku tak peduli tentang semua itu. Ada banyak hal yang harus hilang saat kau ingin mengisinya dengan yang baru. Dan itu menyedihkan.

 

.....

.....

.....

 

Jangan pernah katakan soal kesempatan yang jarang dinikmati orang lain. Saat ini aku hanya ingin mengeluh soal kehidupan lamaku. Di lain waktu, aku pasti akan riang bercerita bagaimana enaknya makan se'i yang dimasak di tungku api.

 

 

 

 

Posted at 08:13 pm by erra
your comments (2)  

4/7/2008
25 FEBRUARI

Sudah dua jam lebih tujuh belas menit dari hari ulang tahunku. Tapi pikiranku masih belum lelah memikirkan banyak hal. Sebenarnya, aku tengah jeda sejenak dari membaca buku Ayat-Ayat Cinta hadiah dari kekasihku. Baru sampai halaman 150 dari 404 halaman yang musti kubaca. Mengapa buku itu yang kubaca? Karena buku hadiah satunya lagi sudah pernah kubaca. Ya, ia tak hanya memberi satu, tapi tiga (atau empat) kado sekaligus. Dua buku, satu MP3 player, dan makan malam di restoran mahal. Awalnya aku berpikir bahwa mungkin ia tak akan sempat mencarikan kado buatku karena ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Memang sih, dia sudah bilang kalau akan menjemputku ke kantor. Tapi kupikir tidak sedramatis itu, bahwa ia akan dengan susah payah memberikan surprise untukku.

Sudah jam 9 malam waktu itu, dan aku sudah tidak ada harapan untuk menyelesaikan pekerjaan kantorku karena alat untuk print to tape programku sedang penuh dipakai anak harian. Kuputuskan untuk mengirim sms ke dia dan menanyakan apakah dia jadi menjemputku atau tidak. Aku menanyakan hal itu karena tidak yakin apakah tadi pagi ia menelepon dan bilang mau menjemputku, atau menyuruhku menjemputnya di kantor. Selama ini memang lebih sering aku yang datang ke kantornya karena memang jalurnya searah dengan jalan pulang. Aku sering diledek teman-temannya karena kerap mendatangi dia untuk pulang bersama.
Mereka bilang,"Harusnya laki-laki dong  yang jemput. Jangan mau disuruh jemput."
Jika sudah begitu, aku hanya senyum-senyum saja dan kadang berkata,"Nggak pa pa. Lagian jalannya searah."

Hubunganku sudah terlalu aneh untuk sekedar menjelaskan kenapa aku yang lebih sering mendatangi kekasihku. Jadi basa-basi adalah jalan terbaik. Sisanya, biar kekasihku yang menjelaskan sebisanya.
Ya, setelah dipikir berulang kali, hubungan kami memang terkesan aneh. Tanpa dijelaskan, saat teman-temanku tahu latar belakang kami, mereka pasti langsung bertanya,"Lha, terus ketemunya dimana?"
Saat aku jawab kami bertemu di kereta, mereka lantas geleng-geleng kepala. Sebenarnya tidak benar-benar di kereta, kami kenal oleh sebuah pertemanan tingkat dua (ingat friendster). Tapi perjalanan panjang yang membosankan di kereta telah memberi kami ruang untuk melewatkan "basa-basi teman baru" untuk lantas beralih ke "percakapan mendalam". Setelah itu, kami lantas berpikir bahwa kami berdua memang dilahirkan untuk saling mengisi.

Ah tidak, sudah pasti aku berbohong di kalimat barusan. Mana mungkin hubungan aneh diawali oleh perasaan saling mengisi. Hingga kini pun, aku tak pernah bisa tahan lama-lama membahas materi yang menjadi headline di koran tempatnya bekerja. Begitu pula ia. Mengingat bahwa aku tidak suka telur rebus atau harus makan nasi (bukannya donat) setelah seharian tidak makan, ternyata harus dibahas dalam diskusi lima menitan.
"Kamu tahu nggak kalo aku nggak suka telur rebus."
"Enggak.."
"Ya udah, sekarang aku kasih tahu ya. Aku nggak suka telur rebus."
"Iya…. Emangnya kenapa?"
"Kemarin kamu beliin aku nasi dengan telur rebus, sayang."
"Masak sih? Oh iya ya..hehehe.."
"Oh iya, aku itu juga nggak suka bla bla bla.."
Ya. Dia orang yang sangat fokus dengan pekerjaan dan dirinya. Aku sudah tahu itu sejak pertama kali dia menunjukkan foto-foto kucing dengan berbagai pose di HP-nya. Dan aku, sebaliknya, adalah seorang observer yang agak-agak berjiwa penyihir (garisbawah=agak). Keadaan tersebut berlangsung hingga kini. Hingga saat dimana ia harus memberikan sesuatu yang istimewa untuk menunjukkan perasaannya.

Setelah sms ku tidak dijawab, aku meneleponnya. Beberapa kali masuk mailbox. Tiba-tiba saja aku berpikir, apakah mungkin ia sedang membeli hadiah untukku? Aku mencoba meneleponnya lagi.
"Hallo.."
"Kamu dimana?"
"Matraman.." Gramedia Matraman, ucapku dalam hati.
"Sama siapa?"
"Umm..sendiri." Aduh boongnya. Aku menggumam lagi, tapi tetap dalam hati.
"Jadi ke kantor?"
"Dua puluh menit lagi ya."
"Oke.."
Klik..

Aku lantas berjalan menuju tempat editing dan langsung curhat ke temanku.
"Aduh, cowokku nggak kreatif banget deh. Masak beliin kadonya buku."
"Buku apa?"
"Belum tahu sih, belum juga dikasih."
"Kok udah tahu?"
"Dan yang lebih nggak kreatifnya lagi, musti bawa cewek gitu lho, buat bantu milih-milih."
"Berarti dia nggak kenal kamu dong. Nggak tahu apa yang kamu suka."
Aku berpikir sejenak. Maybe yes, maybe not. Tapi kalau merujuk teori di atas tentang sifatnya yang egosentris, aku pikir memang sangat sulit baginya untuk mengerti apa yang aku mau. Karena aku adalah observer yang terbiasa suka dengan segala hal dan menghindari favoritisme. Apa dugaanku salah dan ia ternyata membelikanku boneka imut atau kompas kecil di counter lantai satu? Enggak lah. He is so predictable. Setidaknya, begitulah pikirku pada awalnya.
"Aku tadi nganterin temen ke Gramed."
Aku berlagak tidak tahu.
"Kamu nggak nanya kenapa aku ke Gramed?"
Aku tetap sabar menunggu.
Dia menunjukkan wajah ingin ditanya.
"Kamu kan tahu kalo aku udah tahu." Aku tak benar-benar tak bisa berpura-pura. Tapi nampaknya ia juga tak sabar ingin menunjukkan hasil jerih payahnya.
Kado biru dengan bungkus biru telur asin disodorkan ke tanganku.
"Happy birthday ya sayang.."
Ada tiga tumpukan. Yang kecil di atas kupikir terjemahan Qur’an yang kecil. Dua bulan yang lalu aku memang sempat mengatakan kalau aku ingin beli terjemahan Qur’an yang kecil. Tapi mustahil ia bisa mengingat hingga sedetil itu. Akhirnya kuputuskan untuk membuka langsung saja kadonya.
Ternyata MP3 player.
"Kamu belum punya kan?" Matanya berharap. Tapi aku terlalu dingin untuk ukuran perempuan.
"Hmm..aku udah punya sayang. MP3 player sama digital voice recorder."
Lantas kulihat lapis kedua. Buku berjudul Toto Chan.
"Kamu belum punya kan?" Matanya kembali berharap. Tapi seperti kubilang, aku menyukai kebenaran.
"Aku udah punya juga, sayang. Tapi udah aku taruh di rumah."

Terakhir, buku Ayat-ayat Cinta tidak dibahas karena itu sebenarnya buku pesanan ayahku yang sudah kukatakan untuk segera dibeli karena aku mau pulang ke rumah bulan depan. Aku lantas bercerita soal tebakanku yang akurat mengenai hadiah apa yang akan ia berikan. Tapi ia terlihat sibuk dengan MP3 playernya, menyodorkan headphonenya ke telingaku, dan memaksaku mendengar sesuatu.
Ia ternyata merekam ucapan selamat ulang tahun yang manis dalam MP3 player sekaligus menyanyikan lagu yang pertama kali ia perdengarkan padaku, dengan iringan gitar miliknya. Aku menangis? Tentu saja tidak. Aku hanya tersenyum sambil sesekali memejamkan mata membayangkan malam itu. Malam dimana ia terlihat begitu menarik saat memainkan gitar dan bernyanyi.
"Aku tarik ucapanku tadi. Ternyata kamu kreatif." Ucapku setelah lagu indie di MP3 itu selesai. Setelahnya, kami menyelesaikan makan malam dan ia mendengarkan kembali suara yang ia rekam lantas berkata,"Ternyata suaraku bagus ya."

Ya. Kekasihku memang orang paling narsis di dunia. Tapi di sela-sela kenarsisannya, ia berusaha memahami dan mengenalku, lebih dari apa yang selama ini ia lakukan. Karenanya, tak ada alasan bagiku untuk menganggapnya tidak perhatian hanya gara-gara ia memberiku MP3 player sementara MP3 player pink milikku sudah sering ia lihat bergandengan bersama flash disk milikku. Karena aku sendiri toh hingga kini juga tak pernah hafal nomor teleponnya, hari jadian kami, desk/kompartemen ia sekarang, bahkan tanggal lahirnya saja aku lupa-lupa ingat. Bagiku, bagi kami, prioritas pertama bukanlah materi-materi turunan semacam itu. Yang pertama haruslah cinta. Dalam cinta, semua perbedaan akan lebur dan bersinergi menjadi perkara baik. Kesepahaman, rasa saling percaya, saling memahami, semua berasal dari cinta. Lagipula siapa bilang kami berbeda? Kami ini sama. Sama-sama malas seperti ulat keket. Hehehe. Dan untuk kalimat terakhir ini, kurasa tak perlu dijelaskan lebih jauh. ;p

Posted at 09:00 pm by erra
your comments (3)  

4/3/2008
Nggak Kreatif >.<

Kebanyakan bengong di kantor mengakibatkan penyakit otak yang parah ternyata. Jadi lemot. Nggak kreatif! Bayangin, dateng ke kantor cuma buat nunggu tanda tangan satu orang yang ditunggu oleh puluhan orang lainnya. Mau ngetik hono hini yang nggak jelas juga susah. Ini dikarenakan tidak ada komputer personal. Yang ada komputer divisi. Divisi sibuk maksudnya hehehe. Jadi, siapa yang paling sibuk, dialah yang punya tiket untuk menggunakan komputer yang rada mending dibanding komputer lain yang sudah pasti mengandung virus tati my love.exe. 

Ya, aku tahu. Kreativitas sebenarnya akan terlihat saat orang menghadapi situasi sulit. Tapi ini bukan lagi sulit, tapi melilit. Gimana enggak. Buat geser atau keluar dari ruang komputer sempit itu saja harus permisi sambil jinjit karena jarak antara kursi satu dengan lainnya tidak lebih lebar dari 3 cm. Sementara pinggangku gedenya seberapa? (Eh, kalo jinjit malah kena pantat ya? Hehehe..au ah, lagi lemotz). 

Jadi sejak seminggu kemarin aku mengalami bala, yang perlu dibikin tolaknya (tolak bala maksudnya). Ih, nulis aja ampe belepotan gini.  Flashdisk terkena virus, IT yang dipanggil mampir dulu ke promo (ya iyalah, anak promo bening2 gitu loh), dimarahin keuangan, ditelp produser (dimarahin juga karena duit tak kunjung turun akibat laporan keuangan yang tersendat), lalu aku murung. Jadi bego.  

Arrrghhh…

Untung masih jadi satu artikel tentang epilepsi. Lumayanlah, biaya hidup tiga hari hehehe.. Tapi tetap saja arrggh karena hari ini siklus bulanan sedang menghampiri. Lengkap sudah penderitaanku. 

Akhirnya dengan kelemotan yang tiada tara, aku iseng blogwalking dan berkomentar aneh. Satu blog yang isinya renungan, aku bilang isi blognya lucu. Ya ampuun. Tapi karena udah terlanjur diposting, aku biarin aja. Mohon dimaafkan.  

Ada juga ide untuk pindah ke blogspot, karena kayaknya semua kok pada pake blogspot gitu. Lebih enak naruh foto katanya. Tapi aku kan udah ganti provider henpon demi penyetaraan pulsa. Apakah harus ganti blog juga. Apakah kalau pindah blog, aku akan lebih produktif? Itulah pertanyaan2 iseng yang berputar di kepala yang sedang kosong.

 

Setelah dianalisa lebih lanjut, pindah blog itu sama ribetnya dengan pindah kos-kosan. Atau mungkin setara dengan pindah dari kos ke kontrakan. Belum lagi biaya transfer semua dokumen kalau numpang di ‘internet sebelah’, karena diitungnya berdasarkan kb. Bisa rugi bandar bah! Hehehe…

Jadi intinya, nanti dulu deh pindahnya. Kalo udah punya jaringan internet sendiri ajah, biar nggak ngerepotin orang lain dan nggak cuma pindah, tapi jugaa pindah dan menambah produktivitas.

Hari minggu cepatlah dataaang >.<  Biar bisa kabur ke Kalimantan dan nggak mengganggu orang yang deadline tiga berita dalam sehari..

*bletak (lemparan sendal warna coklat mengenai muka)

 

 

 

 

Posted at 05:45 pm by erra
your comments (3)  

Next Page