Google PageRank
   



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


11/22/2009
Ibu hamil Nggak Boleh Dipijat?

Menjelang trisemester ketiga apalagi yang dikeluhkan ibu-ibu hamil selain pegaaal.. Menggendong 2 kg dedek bayi di perut kemana-mana tentu bukan hal mudah. Sempat beberapa waktu lalu dua orang ibu hamil gaul (bisa ditebak siapakah itu) memutuskan untuk pergi ke salon untuk creambath. Kan lumayan ada pijat punggung colongan tuh. Tapi sepertinya itu belum cukup karena setelah melihat ada fasilitas pijat refleksi kaki, buru-burulah kami menambahkannya sebagai bagian dari treatment yang diminta.

Memang sebelum ke salon, kami berdua sudah tahu bahwa ibu hamil itu pantang dipijat di daerah perut, pinggang, dan pinggul. Ketiga bagian itu rentan dengan kontak langsung pada bayi di kandungan. Kalau toh boleh, pemijatan harus dilakukan oleh ahlinya yang mana biayanya mahal sekali :(

Walhasil, dua jam kemudian kami keluar salon dengan wajah seperti orang yang baru saja dapat pencerahan dari Mario Teguh hehe. Bengkak di kaki pun menghilang berkat pijat. Namun esoknya temanku menelepon dan mengatakan kalau pijat refleksi itu berbahaya. OMG! Tapi benarkah pijat refleksi berbahaya?

Dari beberapa artikel yang diubek-ubek di dunia maya, aku mendapatkan keterangan semacam ini:

Pijat di bagian perut, pinggang, dan perut harus dilakukan oleh orang yang mengerti seluk beluk kandungan dan tidak boleh dilakukan sembarangan. Yang harus diperhatikan antara lain :
* Pada saat dipijat jangan sampai terjadi kontraksi, apabila terjadi kontraksi segera hentikan aktivitas pijat tersebut.
* Pastikan kandungan tidak sedang bermasalah.
* Untuk menjaga hal yang tidak diinginkan, lebih baik pijat dilakukan pada usia kehamilan 5 bulan ke atas.
* Yang paling penting, pijat dilakukan oleh terapis/orang yang mengerti dan terlatih dalam hal pijat ibu hamil.

Manfaat pijat bagi ibu hamil antara lain :

* Dapat membetulkan posisi bayi ke bentuk yang seharusnya (sekali lagi, ini harus dilakukan oleh terapis yang benar2 terlatih)
* melancarklan peredaran darah sehingga memberikan relaksasi pad aurat dan saraf
* melancarkan metabolisme tubuh

Pijat telapak kaki (refleksi) juga perlu diperhatikan karena ada saraf-saraf yang berhubungan dengan rahim. Pastikan ketika pijat tidak terjadi kontraksi dan masalah lainnya. Dianjurkan tidak melakukan pijat refleksi kaki. Bagian tubuh yang boleh dipijat dan tidak berisiko adalah betis, tangan, punggung, dan leher.

Thanks God. Ternyata jawabanku di telepon benar! Saat itu aku bilang: Yang penting nggak kontraksi kan mbak. Mudah-mudahan aman dan baik-baik saja.

Jadi memang dilarangnya kegiatan pijat memijat ibu hamil ini erat kaitannya dengan kontraksi. Tak ada kontraksi, amanlah proses pemijatan tersebut. Tapi kalau mau garansi aman dan murah, silakan malam-malam sebelum tidur, memeluk suami masing-masing dan berkata: Sayang, pijitin punggungku doonk ;p

Posted at 01:44 am by erra
your comment (1)  

11/20/2009
Es Buah dan Satu Menit yang Tersisa

Cerita di bulan puasa

Ini baru hari pertama puasa dan hari ketiga aku pindah rumah. Karena masih baru, aku dan ibuku memutuskan untuk menghabiskan sore dengan berjalan-jalan di sekitar rumah. Perjalanan dari gang depan rumah menuju jalan raya sebenarnya tidak terlalu jauh. Tapi jalannya sempit dan kerapkali jika dua motor berpapasan, yang lain harus berhenti dulu. Sepanjang jalan, alih-alih air yang mengalir lancar, got di kanan kiri gang justru penuh terisi sampah plastik dan genangan air kehitaman. Jakarta memang belum mau berubah, pikirku. Untungnya got  depan kontrakan baruku tidak sejorok got-got lain. Aku lebih rela membayar lima belas ribu per bulan untuk biaya angkut sampah, dibanding harus melihat sekelompok lalat mengerubungi sesampah di got yang tersumbat.

Selain jalanan sempit dan got mampet, pemandangan biasa di tempat baruku adalah anak-anak kecil yang ribut berlarian kesana-kemari. Tak jarang mereka mengagetkan tetangga dengan  menyalakan petasan. Sampai-sampai di beberapa tembok gang terpampang tulisan "Dilarang menyalakan petasan di tempat ini!!!".

Namun ada juga yang melegakan diantara semua hal baru, yaitu kehadiran para pedagang makanan keliling yang hampir tiap 5 menit lewat. Tukang siomay, nasi goreng, putu ayu, roti, sampai tukang tahu goreng pun rajin berkeliling di gang-gang sempit di daerah jakarta timur ini. Karena itu meski tergoda sekali dengan keberadaan pedagang es buah yang berderet sepanjang jalan, kami memutuskan untuk pergi ke salon dulu.
"Beli (es buah)nya abis potong rambut aja ya?" Ibu meyakinkanku.
"Baiklah." Aku mengiyakan saja.

Beberapa saat setelah ibuku selesai potong rambut, kami gegas ke toko kelontong di sebelah salon, membeli telur, gula dan agar-agar untuk sahur nanti malam. Setelah semua beres, kupikir aku bisa langsung membeli es buah di depan toko. Harapanku meleset. Bahkan dua tukang es buah di depan toko kelontong pun sudah berkemas-kemas hendak pulang. Olala, ternyata hampir semua orang ingin berbuka dengan es buah di hari pertama puasa.

Akhirnya kami pun kembali menyusuri jalanan untuk mencari tukang es buah lain. Beruntung kami mendapati satu gerobak es buah yang penjualnya masih nampak sibuk. Namun karena stok buah potong di toples sudah habis terjual, si bapak penjual harus memotong lagi buah yang masih utuh. Si ibu juga terlihat sibuk memotong-motong buah pir dalam bentuk kotak2 kecil.
Karena melihat stok buahnya masih banyak, kami pun menghampiri mereka.
"Es buahnya dua ya. Dibungkus."
Sang anak yang sibuk memasukkan agar-agar potong ke wadah plastik, mengangguk tanpa menoleh ke kami.
"Cepet dikit dong mas! Udah mau buka nih." Seorang bapak berkata ke penjual buah dengan nada tak sabar. Memang, sekira hampir semenit lagi waktu buka puasa tiba. Si anak yang sibuk membungkus bertambah panik dibentak seperti itu.
Gubrak!
Tangannya tak sengaja menggeser deretan es buah yang sudah tinggal diberi kuah dan susu. Dua bungkus terjatuh sia-sia ke lantai.
"Ah, udah deh, yang udah siap aja sini! Ada berapa???" Si bapak tambah gusar melihat pemandangan itu. Si anak tak kalah panik.
"I..iya. Ini pak ada tiga. Ini tunggu sebentar, udah empat bungkus."
"Ya sudah sini! Empat bungkus saja. Berapa??"
"Dua puluh ribu, Pak."

Setelah menerima bungkusan es buah dan membayarnya, si bapak langsung memacu motornya tergesa-gesa. Kekesalan yang amat sangat, terlihat dari caranya menyetir motor.

Aku tak terlalu menyalahkan bapak itu. Dengan tenaga tiga orang seharusnya penjual es buah itu sudah bersiap-siap memotong buah yang baru saat tahu stok buah potongnya hampir habis. Tapi di sisi lain, aku melihat keinginan untuk menyegerakan berbuka puasa membuat hikmah kesabaran menjadi luntur.

Aku membayangkan dalam fragmen lain, si bapak bukannya marah malah mempersilahkan tukang buah berbuka terlebih dahulu. Membiarkan mereka menyesap sedikit es teh manis yang telah disiapkan si ibu. Lalu si ibu tukang buah dengan ramah memberikan gratis segelas es teh manis ke bapak pembeli, sembari menunggu sang anak selesai membungkusi es buah pesanannya satu persatu. Maka demi satu menit yang tak akan terulang kembali, waktu bisa saja menjadi saksi bagi semakin rekatnya hubungan persaudaraan sesama muslim di bulan puasa. Dan alih-alih membawa es buah dan segenggam gerutuan bagi keluarga di rumah, sang bapak bisa memberikan secuil cerita kebajikan tentang hikmah kesabaran.

Namun untuk sementara ini, aku harus berlapang dada menghadapi kenyataan bahwa di sekitarku 'ibaadatun masih dianggap lebih penting dibanding birrun. Yah, bagaimanapun hanya Tuhan yang tahu segalanya.

Posted at 12:26 pm by erra
comment  

Next Page