|
|
 |
11/20/2009
Es Buah dan Satu Menit yang Tersisa
Cerita di bulan puasa
Ini baru hari pertama puasa dan hari ketiga aku pindah rumah. Karena masih baru, aku dan ibuku memutuskan untuk menghabiskan sore dengan berjalan-jalan di sekitar rumah. Perjalanan dari gang depan rumah menuju jalan raya sebenarnya tidak terlalu jauh. Tapi jalannya sempit dan kerapkali jika dua motor berpapasan, yang lain harus berhenti dulu. Sepanjang jalan, alih-alih air yang mengalir lancar, got di kanan kiri gang justru penuh terisi sampah plastik dan genangan air kehitaman. Jakarta memang belum mau berubah, pikirku. Untungnya got depan kontrakan baruku tidak sejorok got-got lain. Aku lebih rela membayar lima belas ribu per bulan untuk biaya angkut sampah, dibanding harus melihat sekelompok lalat mengerubungi sesampah di got yang tersumbat.
Selain jalanan sempit dan got mampet, pemandangan biasa di tempat baruku adalah anak-anak kecil yang ribut berlarian kesana-kemari. Tak jarang mereka mengagetkan tetangga dengan menyalakan petasan. Sampai-sampai di beberapa tembok gang terpampang tulisan "Dilarang menyalakan petasan di tempat ini!!!".
Namun ada juga yang melegakan diantara semua hal baru, yaitu kehadiran para pedagang makanan keliling yang hampir tiap 5 menit lewat. Tukang siomay, nasi goreng, putu ayu, roti, sampai tukang tahu goreng pun rajin berkeliling di gang-gang sempit di daerah jakarta timur ini. Karena itu meski tergoda sekali dengan keberadaan pedagang es buah yang berderet sepanjang jalan, kami memutuskan untuk pergi ke salon dulu. "Beli (es buah)nya abis potong rambut aja ya?" Ibu meyakinkanku. "Baiklah." Aku mengiyakan saja.
Beberapa saat setelah ibuku selesai potong rambut, kami gegas ke toko kelontong di sebelah salon, membeli telur, gula dan agar-agar untuk sahur nanti malam. Setelah semua beres, kupikir aku bisa langsung membeli es buah di depan toko. Harapanku meleset. Bahkan dua tukang es buah di depan toko kelontong pun sudah berkemas-kemas hendak pulang. Olala, ternyata hampir semua orang ingin berbuka dengan es buah di hari pertama puasa.
Akhirnya kami pun kembali menyusuri jalanan untuk mencari tukang es buah lain. Beruntung kami mendapati satu gerobak es buah yang penjualnya masih nampak sibuk. Namun karena stok buah potong di toples sudah habis terjual, si bapak penjual harus memotong lagi buah yang masih utuh. Si ibu juga terlihat sibuk memotong-motong buah pir dalam bentuk kotak2 kecil. Karena melihat stok buahnya masih banyak, kami pun menghampiri mereka. "Es buahnya dua ya. Dibungkus." Sang anak yang sibuk memasukkan agar-agar potong ke wadah plastik, mengangguk tanpa menoleh ke kami. "Cepet dikit dong mas! Udah mau buka nih." Seorang bapak berkata ke penjual buah dengan nada tak sabar. Memang, sekira hampir semenit lagi waktu buka puasa tiba. Si anak yang sibuk membungkus bertambah panik dibentak seperti itu. Gubrak! Tangannya tak sengaja menggeser deretan es buah yang sudah tinggal diberi kuah dan susu. Dua bungkus terjatuh sia-sia ke lantai. "Ah, udah deh, yang udah siap aja sini! Ada berapa???" Si bapak tambah gusar melihat pemandangan itu. Si anak tak kalah panik. "I..iya. Ini pak ada tiga. Ini tunggu sebentar, udah empat bungkus." "Ya sudah sini! Empat bungkus saja. Berapa??" "Dua puluh ribu, Pak."
Setelah menerima bungkusan es buah dan membayarnya, si bapak langsung memacu motornya tergesa-gesa. Kekesalan yang amat sangat, terlihat dari caranya menyetir motor.
Aku tak terlalu menyalahkan bapak itu. Dengan tenaga tiga orang seharusnya penjual es buah itu sudah bersiap-siap memotong buah yang baru saat tahu stok buah potongnya hampir habis. Tapi di sisi lain, aku melihat keinginan untuk menyegerakan berbuka puasa membuat hikmah kesabaran menjadi luntur.
Aku membayangkan dalam fragmen lain, si bapak bukannya marah malah mempersilahkan tukang buah berbuka terlebih dahulu. Membiarkan mereka menyesap sedikit es teh manis yang telah disiapkan si ibu. Lalu si ibu tukang buah dengan ramah memberikan gratis segelas es teh manis ke bapak pembeli, sembari menunggu sang anak selesai membungkusi es buah pesanannya satu persatu. Maka demi satu menit yang tak akan terulang kembali, waktu bisa saja menjadi saksi bagi semakin rekatnya hubungan persaudaraan sesama muslim di bulan puasa. Dan alih-alih membawa es buah dan segenggam gerutuan bagi keluarga di rumah, sang bapak bisa memberikan secuil cerita kebajikan tentang hikmah kesabaran.
Namun untuk sementara ini, aku harus berlapang dada menghadapi kenyataan bahwa di sekitarku 'ibaadatun masih dianggap lebih penting dibanding birrun. Yah, bagaimanapun hanya Tuhan yang tahu segalanya.
Posted at 12:26 pm by erra
lihat komentar
Suatu Hari di Tampines Avenue
Kawasan Tampines di Singapura, bukanlah tempat yang terlalu istimewa. Flat-flat padat penghuni berjajar rapi sesuai nomor urut. Jemuran yang belum kering seperti saling melambai diantara jendela-jendela kamar flat. Tak terlalu rapi meski tak juga bisa dibilang kumuh. Diantara komplek perumahan padat tersebut, berdiri sebuah bangunan tingkat dua yang cukup besar. Di papan nama gedung tertuliskan: Darul Takrim, Home for The Aged. Ya, ia adalah salah satu dari sekian banyak panti jompo di Singapura. Dari luar, ia nampak selayaknya kantor. Namun ketika masuk, akan terlihat beberapa orang tua lalu lalang menggunakan tongkat maupun kursi roda. Mereka semua memakai baju yang bagus dan nampak antri naik lift menuju lantai 2. Hari itu sedang ada acara perayaan Lebaran. Meski terlambat sebulan dari Lebaran sebenarnya, mereka tetap bersemangat merayakan. Ada yang asyik berjoget mengikuti irama musik melayu, ada juga yang diam dan khidmat menyaksikan MC menuntun acara. Namun jangan bayangkan kegembiraan lebaran disini serupa dengan lebaran di tanah air. Jika masyarakat muslim Indonesia rela berdesak-desakan di angkutan umum demi melestarikan tradisi mudik dan kumpul keluarga, di tempat ini kata kebersamaan menjadi ungkapan yang mahal dan langka. Saat kutanya tentang keluarga, salah seorang perempuan penghuni panti jompo mengatakan anak-anaknya terlalu sibuk untuk sekedar mengunjungi mereka. "Anak-anak semua tinggal di luar negeri. Ada yang tinggal di Australia. Sibuk bekerja." Begitu aku perempuan paruh baya tersebut dengan bahasa Inggris terbata-bata. Aku mengangguk mahfum. Singapura. Negara kecil ini adalah salah satu negara tersibuk di Asia Tenggara. Roda perekonomian berjalan secepat elevator-elevator di stasiun MRT (Mass Rapid Transit). Tak ada kata maaf bagi orang-orang yang malas dan tidak produktif. Begitupun dengan tempat hunian. Lahan yang dulunya ditempati rumah tradisional telah diubah menjadi flat-flat menjulang tinggi atas nama efisiensi. Segala sesuatu yang tidak efisien dianggap beban yang memberatkan. Termasuk orang tua. "Jika kami sibuk mengurus orang tua, maka kami sendiri tidak bisa bertahan hidup.Bukannya kami hendak durhaka terhadap orang tua. But we have no choice." Begitu ungkap DR. Mohammad Shariff Bin Mohammad Yatim, Ketua Yayasan Darul Takrim. Meski ia menjalankan yayasan yang mengurusi warga lanjut usia, tapi ia sendiri mengaku selalu kewalahan menjawab tuntutan orang tuanya sendiri terkait masalah penjagaan. Lebih lanjut, lelaki berumur 50-an tahun ini mengungkapkan dilema tersebut kerap menjadi pangkal kesalahpahaman dan kekecewaan. Para orang tua menuduh sang anak durhaka dengan menolak menjaga mereka. Di sisi lain, sang anak merasa sangat terbebani jika harus meluluskan keinginan orang tua. Karena tak hanya waktu yang terbuang, biaya kesehatan yang mahal pun menjadi pertimbangan. Sementara di panti Jompo semacam Darul Takrim, segala kebutuhan untuk orang tua disediakan cuma-cuma oleh negara. Pemeriksaan kesehatan dilaksanakan rutin. Program-program positif seperti olahraga dan permainan untuk menjaga ingatan juga menjadi program reguler. Dan tentunya keberadaan perawat yang cekatan dan menguasai penanganan darurat semacam CPR menjadi pertimbangan utama dibanding membayangkan harus melakukan perawatan mandiri. Di balik semua alasan rasional tersebut, nampaknya warga (dan juga pemerintah) Singapura telah terjebak dalam roda kehidupan yang mereka buat sendiri. Tuntutan akan kehidupan yang efektif dan efisien demi taraf hidup yang lebih baik, membuat mereka menghitung segala sesuatu dalam timbangan ekonomi. Mereka boleh saja menjuluki orang-orang tua sebagai senior citizen atau orang berusia emas. Namun penghormatan tersebut nampak palsu ketika di waktu yang bersamaan pemerintah Singapura memberlakukan aturan untuk tidak boleh menampakkan wajah para orang tua dalam televisi. Apakah mereka dianggap sebuah aib? Atau pemerintah memahami dilema para anak dan mencegah mereka dari sedih berkepanjangan setelah menyaksikan kehidupan orang tua mereka di televisi? Tak ada yang tahu pasti alasannya. Kita hanya bisa mengira-ngira. Namun dalam kacamata saya pribadi, jika pemerintah tulus menghargai keberadaan para warga usia lanjut, tentu akan muncul kebijakan yang lebih arif dibanding kebijakan untuk tidak boleh menayangkan wajah manula di televisi. Pak Sobari, Sebuah Sisi Lain Namanya cukup singkat. Sobari. Ia berasal dari Banyumas, Jawa Tengah. Di tahun 1945 ia masih seorang bocah berumur 11 tahun yang haus akan pengalaman. Karena keluarganya tak terlalu berada, ia kemudian dititipkan ke pamannya di Kendal. "Bapak angkat saya itu kaya sekali karena punya hantu. Tuyul. Anaknya saja perempuan sehat pada awalnya, gemuk sekali. Tapi tak ada sakit atau apa, esoknya mati." Begitu cerita Pak Sobari yang masih terlihat segar di usianya. Akhirnya karena ketakutan akan dijadikan tumbal, Sobari kecil melarikan diri berjalan tanpa alas kaki melewati hutan, selama tiga hari tiga malam. Namun malang, setibanya di rumah bukannya pertolongan yang didapat, ia malah dijemput kembali oleh sang paman. "Disuruh menjaga lembu." Ucapnya. Karena tidak betah, kemudian ia lari lagi dengan menaiki kereta menuju Semarang. Sempat pula ia main kucing-kucingan dengan petugas karena tak memiliki karcis. Namun ia selamat sampai Semarang. Selama beberapa waktu, lelaki yang akrab dipanggil Pak Bari ini berhasil mendapat pekerjaan sebagai pembantu di warung makan stasiun. Pekerjaannya memikul bakul nasi dari rumah menuju warung. Namun tak berapa lama, ia terkena ciduk tentara Jepang bersama pemuda gelandangan lainnya. Saat bercerita tentang pencidukan tersebut, mata lelaki tua ini sempat menerawang. Ia berkata ibunya sempat berusaha hendak menebusnya, tapi tak berhasil. Pencidukan inilah yang kemudian membawanya hingga ke negeri Singa Putih. Negeri asing yang belum pernah ditapaki seumur hidupnya. Sehari-hari ia kemudian bekerja sebagai pembantu perawat tentara yang sakit. Beberapa waktu ia juga sempat ditugaskan untuk membawa mayat-mayat. "Jepun tidak mengubur mayat-mayat. Dibuang saja ke laut." Begitu cerita orang tua ini dengan bersemangat."Tapi saya jadi kesayangan Jepun karena dulu saya gemuk dan sehat." Ketika ditanya bagaimana mulanya hingga ia ada di Darul Takrim, bapak tua ini sempat diam sejenak. Beberapa kisah dalam hidupnya seperti dipercepat. Ia kemudian bercerita bahwa setelah beberapa waktu bekerja, bapak angkat yang menampungnya meninggal dunia. Begitu juga dengan kakak angkatnya. Ia sempat menyewa flat di kawasan Orchad selama beberapa waktu. Namun kemudian ia jatuh sakit. Karena menderita sakit beberapa lama, ia tak mampu lagi bekerja. Saat itulah petugas rumah sakit mengantarnya ke Darul Takrim. Bagaimanapun, di Darul Takrim inilah orang-orang seperti pak Bari mendapat tempat dan fasilitas yang lebih layak, meski tak lagi ditopang keluarga. Karena itu walau tak lagi memiliki kontak dengan sanak saudara. Pak Bari tak terlihat menyesali jalan hidup yang ia lalui. Tak ada gurat sedih dalam tiap ceritanya, terkecuali ketika ia bercerita tentang istri dan anaknya yang kini tinggal di Malaysia. "Istri saya namanya Sawi. Sayur Sawi ha ha ha." Ucap Pak Bari sambil tertawa getir. Menurutnya, sang istri tak mau menjenguk dirinya, bahkan melarang dua anaknya Syafi'i dan Salim untuk mengunjunginya di Singapura. Mereka kini berdomisili di Malaysia. Pengalaman buruk dengan istri dan anak membuat Pak Bari tak berharap banyak pada keluarga di Indonesia. Menurutnya jikapun ia bertemu lagi dengan keluarga di Indonesia, mereka pasti tak lagi mengenali dirinya. "Hidup disini juga sudah enak. Banyak teman." Ucapnya mengakhiri perbincangan.
Posted at 12:20 pm by erra
lihat komentar
|