Your Ad Here





Google PageRank
   



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



2/8/2008
Merekam Ebeg dalam Ingatan

Banyumas. Kota ini bukanlah sekedar kota penghasil tempe mendoan yang enak, bagi saya. Banyumas adalah saksi bagaimana dua kebudayaan besar saling beradu pengaruh dan kekuasaan. Mungkin karena itulah, justru timbul semangat egaliter dalam setiap sendi kehidupan masyarakat Banyumas. Yang paling jelas adalah penggunaan bahasa yang bercampur baur antara bahasa Sunda dengan bahasa Jawa. Bukan hanya penggunaan kata, pakem-pakem bahasa pun didobrak. Tak ada pembedaan antara berbicara dengan yang tua atau yang muda. Logat mereka yang khas pada akhirnya juga membentuk pola bahasa sendiri yang hingga kini disebut sebagai bahasa Banyumasan. Saya melihatnya sebagai perlawanan terselubung terhadap hegemoni budaya keraton.

 

Tapi hari masih pagi dan perjalanan masih panjang. Karena itu saya tak ingin buru-buru menyimpulkan sebelum menemukan pengalaman lain di kota Wangon yang merupakan salah satu kecamatan di Banyumas ini. Dan kelak saya tahu, meski langkah saya saat ini sepertinya spontan saja, tapi keinginan hati telah menuntun saya menuju pengalaman-pengalaman tak terlupakan.

 

Belum lagi beberapa meter saya berjalan, kala itu telinga saya mendengar sayup musik gamelan beradu suara dengan mesin-mesin kendaraan di jalan raya. Sound system yang pas-pasan membuat suara gamelan kadang pelan kadang memekakkan telinga. Dalam hati saya menduga di salah satu rumah penduduk, sedang ada pertunjukan ebeg atau kuda lumping.

 

Perkiraan saya tidak meleset. Di halaman penduduk yang berbentuk seperti ceruk, berkumpul pedagang-pedagang dan penonton yang sedang asyik menikmati pertunjukan ebeg. Musik yang keras dan suara sinden yang nyaring memang menjadi magnet yang ampuh untuk mengumpulkan penonton. Bagi kalangan keraton, kuda lumping versi ebeg semacam ini dinilai tak menurut pada pakem ataupun estetika berkesenian. Maklumlah, di pertunjukan ebeg, muncul beberapa unsur seni lain yang sebenarnya tak dianggap memiliki hubungan. Mulai dari penari topeng barongan dan cepet, hingga seni suara yang diwakili oleh sinden. Tapi penulis sekaligus pengamat seni Banyumasan, Ahmad Tohari, memiliki jawabannya. Menurutnya, masyarakat bawah adalah masyarakat yang mudah menyerap berbagai bentuk seni yang bisa diterima oleh mereka. Asalkan menghibur, mereka tak akan pusing-pusing memikirkan perkara estetika ataupun pakem-pakem berkesenian. Karena jika orang-orang keraton memiliki waktu yang banyak untuk terfokus pada satu bidang kesenian, masyarakat jelata hanya memainkan sebuah kesenian berdasarkan kebutuhan akan hiburan di waktu senggang mereka.

 

Ya, tak dipungkiri, meski melibatkan sinden yang bernyanyi penuh semangat, selama dua babak pertunjukan, gerakan yang dilakukan penari tampak begitu monoton. Irama gamelan juga berjalan ritmis seperti mengimbangi laku gerak para penari. Tapi bisa jadi, gerakan monoton ini sengaja dibuat agar para penari kehilangan konsentrasi sehingga mudah beraksi pada babak puncak.

 

Babak puncak adalah babak penentuan sukses tidaknya pentas ebeg ini. Karena itu meski panas terik, para penonton tetap sabar menunggu adegan puncak yang dinanti-nanti yaitu wuru'. Wuru' atau kesurupan biasanya diawali dengan babak tari perang-perangan yang dimainkan oleh penari atau cepet. Masih menurut Ahmad Tohari, keberadaan cepet sebenarnya bisa diartikan sebagai penyeimbang. Pertunjukan ebeg yang monoton dan serius kemudian diimbangi oleh kehadiran cepet yang menyegarkan suasana. Tapi pada saat tari perang-perangan, cepet juga lantas turut ambil bagian meski di tangannya hanya tergenggam pengaduk nasi, bukan pedang. Saya membayangkan, bahwa jaman dulu di saat prajurit Kasunanan sibuk berlatih perang dengan kuda sungguhan, rakyat Banyumas bukan hanya mengikuti acara tiap sabtu ini dengan menggunakan kuda-kudaan, tapi juga membangkitkan semangat juang kaum jelata. Lewat cepet, mereka seakan berkata: Lihatlah, tak hanya kalian prajurit, yang mampu berperang. Kami juga sanggup, meski pada awalnya kami hanya diperintahkan untuk mengurusi kuda kalian.

 

Saya berani berandai-andai seperti ini karena dalam kesenian rakyat jelata, tak ada versi yang paling benar. Budaya lisan membuat versi asli tak tercatat dalam diktat-diktat sejarah. Karena itu jika beberapa orang menganggap kesenian ebeg menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah yang dibantu Sunan Kalijaga, tak ada yang bisa menyalahkan. Jikapun ada yang mengatakan bahwa ebeg merupakan strategi latihan bagi pasukan diponegoro, bisa jadi benar. Apalagi di tiap jaman, ebeg begitu populer di tengah masyarakat Banyumas. Dan seperti kesenian manapun, ia bisa saja mengalami retrospeksi bentuk dengan ide yang sudah dimodifikasi sesuai keadaan.

  

Meski begitu, ada satu hal yang belum bisa hilang dari kesenian ebeg. Yaitu penggunaan media roh halus atau biasa disebut indang. Saat menonton di tengah-tengah sekumpulan penduduk, saya sudah merasa agak was-was. Tak ada batas yang jelas antara penonton dan pemain. Bisa saja si dukun ebeg dan tiga pembantunya alpa mengawasi salah seorang pemain yang lantas menyerang penonton. Saat itu perasaan saya sudah tak nyaman melihat para pemain bergeletakan tak sadarkan diri. Meski begitu, saya masih percaya pada dukun ebeg yang memang merupakan pemimpin dari pertunjukan ini. Tapi kepercayaan saya terlalu berlebihan. Ini adalah kesenian rakyat dan sudah wajar jika para penonton turut aktif dan menjadi bagian dari atraksi. Ya, di saat saya sedang bertanya-tanya kepada seseorang di sebelah saya, sedetik kemudian ia sudah meloncat ke arena dengan badan yang lurus kaku. Si dukun kemudian menghampiri, memegang persendian orang itu, dan orang itu lantas ikut-ikutan menari seperti layaknya pemain ebeg. Tak terbayangkan rasa takut yang saya alami sewaktu melihat adegan itu. Saya seperti terseret dalam pusaran hawa panas yang berasal dari sekeliling. Tiba-tiba asap dupa, musik yang ritmis serta tarian para penari membuat saya menjadi pusing. Saya berusaha tetap sadar dan menjejakkan kaki ke tanah untuk menjaga keseimbangan. Saya tak mau tiba-tiba membuka mata dan tersadar bahwa saya baru saja menari-nari di tengah arena. Tidak, untuk rasa takut yang satu ini tentu saja tidak terbukti. Kelak saat selesai pentas, saat saya bertanya dengan dukun ebeg apakah mungkin saya kesurupan, si dukun malah tersenyum dan berkata bahwa yang bisa kesurupan di permainan ebeg ini kalau perempuan haruslah perawan sunthi, yaitu gadis kecil yang masih belum akil baliq. Huff, saya jadi lega mendengarnya.

 

 

Melihat begitu kentalnya permainan ebeg dengan nuansa mistis, saya jadi tertarik untuk mengetahui seperti apa kehidupan dukun ebeg atau biasa disebut penimbul. Jika menurut pada perkataan Ahmad Tohari, sudah sewajarnya seorang dukun ebeg tak hanya berprofesi sebagai dukun. Bisa jadi mereka ternyata adalah petani, pengambil gula aren, atau malah tukang ojek. Karena bagi masyarakat bawah, kesenian bukanlah tujuan, tapi hanya sarana untuk mendapatkan hiburan di tengah kehidupan sehari-hari yang monoton. Tapi Pak Narkim, dukun ebeg yang baru saja saya lihat, sedikit agak berbeda. Di masa mudanya ia memang sempat merantau hingga ke tanah seberang demi sebuah pengharapan. Tapi kemudian di tahun 1982 ia memutuskan untuk kembali ke Banyumas tepatnya di Wangon, dan lantas menekuni profesi sebagai dukun ebeg sepenuhnya, sebagaimana dua kakaknya. Kini umur Pak Narkim sudah 65 tahun. Jika tak ada yang menanggap, ia menyibukkan diri dengan menanam pohon gadung di depan rumah. Di saat istirahat, ia bermain-main dengan salah seorang cucunya yang masih tingal serumah dengannya. Berbeda dengan penampilannya di pertunjukan ebeg, pak Narkim sehari-hari tampak selayaknya orang tua pada umumnya. Tak ada kacamata hitam atau ikat kepala yang menyiratkan kegagahan. Meski begitu, tiap kali memiliki hajat, Pak Narkim masih setia melakoni puasa mutih, yaitu hanya makan makanan yang putih atau direbus tanpa garam, juga minum hanya air putih saja. Untuk menjadi dukun yang handal, ia memang harus patuh pada tata aturan yang diajarkan secara lisan oleh pendahulunya. Seperti pada saat sebelum pentas, ia harus tahu dulu dimana tempat ia dan rombongannya akan mengadakan pertunjukan. Setelah itu, ia harus mencari tahu siapa kuncen yang menjaga daerah keramat di daerah tersebut. Menurutnya, ia harus mendatangi daerah keramat itu untuk memohon doa restu agar saat ia dan rombongannya mengadakan pertunjukan, roh-roh dari daerah asli tidak tersinggung atau berkelahi satu sama lain. Dunia supranatural sudah begitu lekat di diri pak Narkim. Untuk memenuhi kebutuhan sesajian saja, ia berangkat sendiri ke pasar seperti layaknya seseorang yang hendak membelikan buah tangan untuk sanak kerabat. Penampilannya pun sederhana, bahkan cenderung lucu. Ia sudah menganggap indang-indang sebagai teman yang bisa membantunya melestarikan kesenian tradisional banyumas. Satu persatu ia menyebutkan nama indang yang sering membantunya kala pentas. "Ada yang lucu, ada yang sedih. Pokoknya macem-macemlah. Sama seperti manusia, sifatnya macam-macam." Begitu ucapnya dengan logat khas Banyumas.

 

Tapi bagaimanapun, dunia supranatural tetap memiliki dimensi lain dengan manusia. Pak Narkim sadar betul akan hal itu. Di antara sikap santainya, ia selalu serius saat melakoni ritual yang memungkinkan ia berdialog dengan indang-indang penghuni tempat keramat. Seperti saat di panembahan, ia ditemani seorang kuncen begitu takzim menundukkan kepala meminta ijin untuk masuk ke bekas sumur keramat tersebut. Ia, dengan "buah tangan" yang diyakini merupakan kesukaan para indang, lantas masuk "rumah" dengan melepas sandal tanda hormat. Di dua titik yang dianggap merupakan pintu-pintu lainnya, ia kemudian berdoa bergantian dengan sang kuncen. Asap dupa segera menguar ke segala penjuru.

 

Saya tak hadir kala Pak Narkim melakoni semua ritual tersebut. Tapi melalui ceritanya, saya jadi mengerti bagaimana dunia roh tak lagi dianggap dunia yang jauh terpisah dari manusia. Saya jadi ingat, di saat menonton ebeg, ibu-ibu di sebelah saya memang tidak memperlihatkan rasa takut. Bahkan ada beberapa orang tua yang membiarkan anaknya disembur oleh pemain ebeg. Menurut ibu di sebelah saya, ebeg juga bisa dijadikan sebagai sarana pengobatan bagi anak kecil yang demam tinggi karena kena sawan, atau disentuh roh halus. Diantara spontanitas berkesenian masyarakat jelata, ternyata tersimpan pemahaman yang tinggi dalam menyikapi perkara kasat mata. Mereka tak hanya berhasil menaklukkan rasa takut, tapi juga menemukan cara untuk berdamai kala  terjadi hal-hal di luar batas.

 

Lantas, apa jadinya jika dunia modern tak lagi bisa menampung kearifan lokal dalam memaknai dunia kasat mata ini? Apakah kesenian ebeg akan ikut punah seiring dunia yang semakin berpikir positivis ini? Saya tak hendak ambil pusing dengan semua pertanyaan itu. Bagi saya, berjalan-jalan di salah satu tempat di Banyumas ini adalah perkara menemukan pengalaman "an sich" yang akan membuka mata saya terhadap segala apa yang terjadi di dunia. Saat itu kemudian telinga saya lagi-lagi mendengar alunan gamelan yang terdengar lamat-lamat saja. Semakin menuju ke pusat suara, saya semakin tak yakin apa yang akan saya temui karena saya berjalan menuju ke tepi sungai. Tapi kerumunan ibu-ibu membuat saya penasaran juga untuk melongok ke bawah.

 

Aha, ternyata sekelompok anak kecil sedang berlatih ebeg, ditemani oleh dua orang pelatih dan para pemain gamelan. Diantara bukit yang curam dan aliran deras sungai Wangon, mereka tampak begitu kecil dan mungil. Gerakan mereka masih patah-patah dan tak serasi.  Dari sekian banyak anak-anak yang berlatih, mungkin hanya satu dua saja yang terlihat berbakat. Tapi para pelatih tetap tekun mengajari. Lenggokan pundak, gelengan kepala, keserasian gerak kaki, semua terasa jadi begitu sulit dilakukan anak-anak itu. Saya jadi merasa agak bersalah telah menuduh bahwa gerakan tari ebeg adalah gerakan yang mudah saja dilakukan. Perlu latihan terus menerus untuk mendapatkan hasil seperti yang dipertunjukkan oleh grup Tinggarjati yang diketuai oleh pak Narkim. Pertanyaan saya tentang masa depan ebeg pun terjawab sudah. Bayangkan, diantara lumpur coklat dan genangan air, kaki-kaki kecil mereka bersedia untuk digerakkan untuk sebuah langkah menuju kesempurnaan tarian. Dan tak melulu mistik, mereka terlihat begitu antusias dengan olah tari itu sendiri. Ya, seperti yang dikatakan Pak Narkim sore itu di pinggir sungai, pemain ebeg boleh hilang satu, tapi dengan melatih tunas-tunas baru, yang hilang pasti akan tumbuh berganti hingga ebeg akan terus hidup di dalam masyarakat Banyumas. Apalagi tempat mereka latihan adalah bekas makam leluhur pertama di Wangon yang terkikis sedikit demi sedikit hingga menjadi dataran rendah. Kepercayaan penuh terhadap dukungan leluhur, membuat mereka yakin suatu saat tangan-tangan kecil itu mampu menjadi penopang bagi masa depan ebeg. Saya tak tahan untuk tidak mengabadikan moment itu. Beberapa jepretan foto selalu diiringi oleh gelak tawa dan olok-olok teman mereka yang menonton. Ah, sungguh sebuah dunia yang begitu murni. Hingga beberapa jam kemudian, latihan berakhir saat latihan tari perang-perangan usai.

 

Merahnya senja masih jauh dari horison. Delta di tepi sungai tak lagi riuh terisi ramainya gamelan dan gelak tawa anak-anak. Tinggal saya duduk sendiri, berusaha untuk merekam setiap detik peristiwa lewat torehan pena. Jikapun tak menjadi mahakarya seperti buku-buku Ahmad Tohari, setidaknya saya telah memulai catatan sejarah tentang keberadaan kesenian tradisional dari Banyumas ini. Kesenian yang begitu alami mengalir, seperti aliran sungai Wangon.  

 

 

 

 

 

 

 

Posted at 12:45 pm by erra

Flyman
January 4, 2013   06:46 PM PST
 
Artikel yang sangat bagus..
Di daerah saya (gombong) juga masih ada, bahkan di desa saya masih ada paguyubannya.
north face online
October 24, 2012   04:00 AM PDT
 
Excellent post. It makes me realize the energy of words and pictures. I learn a lot, thank you! Wish you make a further progress in the future.,716998,http://errasgarden.blogdrive.com/archive/62.html
Louis Vuitton Outlets
May 9, 2012   11:41 PM PDT
 
Go for someone who makes you smile because it takes only a smile to make a dark day seem bright.,847724,http://errasgarden.blogdrive.com/archive/62.html
oky
August 2, 2010   11:35 PM PDT
 
kebetulan sy adalah salah seorang yg turut serta melestarikan budaya ebeg, atau wuru2, sy berharap akan banyak pemuda2 se'usia saya yg tertarik dgn seni budaya yg hampir hilang terkikis zaman....

jangan ragu akan jarak tempuh..
saya jauh dari kota tangerang menuju tanah jawa (banyumas) demi utk berlatih menjadi seorang dalang ebeg / kuda lumpingan..
mari lestarikan budaya leluhur kt...
bagus
June 4, 2010   01:43 PM PDT
 
syarat punya indang & biSa maEn eBeg gMn sEy.........
erra
February 19, 2008   08:30 PM PST
 
Sebenarnya (lagi-lagi) ini fiksi dok :D Karena lama sekali blog ku kosong melompong, aku iseng aja bikin skrip programku jadi narasi hehehe.

Kalau ada waktu, nonton ya.. Jam setengah tiga sore, hari Kamis ini. Di TV One..
Edisi perdana nih, mohon kritik sarannya ^^V

yus
February 19, 2008   05:23 PM PST
 
selalu ada hal2 yang tak kita mengerti. termasuk dunia supranatural. mungkin karena itulah ia disebut 'supra'.
tapi senang melihatmu kembali..
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry