Sudah dua jam lebih tujuh belas menit dari hari ulang tahunku. Tapi pikiranku masih belum lelah memikirkan banyak hal. Sebenarnya, aku tengah jeda sejenak dari membaca buku Ayat-Ayat Cinta hadiah dari kekasihku. Baru sampai halaman 150 dari 404 halaman yang musti kubaca. Mengapa buku itu yang kubaca? Karena buku hadiah satunya lagi sudah pernah kubaca. Ya, ia tak hanya memberi satu, tapi tiga (atau empat) kado sekaligus. Dua buku, satu MP3 player, dan makan malam di restoran mahal. Awalnya aku berpikir bahwa mungkin ia tak akan sempat mencarikan kado buatku karena ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Memang sih, dia sudah bilang kalau akan menjemputku ke kantor. Tapi kupikir tidak sedramatis itu, bahwa ia akan dengan susah payah memberikan surprise untukku.
Sudah jam 9 malam waktu itu, dan aku sudah tidak ada harapan untuk menyelesaikan pekerjaan kantorku karena alat untuk print to tape programku sedang penuh dipakai anak harian. Kuputuskan untuk mengirim sms ke dia dan menanyakan apakah dia jadi menjemputku atau tidak. Aku menanyakan hal itu karena tidak yakin apakah tadi pagi ia menelepon dan bilang mau menjemputku, atau menyuruhku menjemputnya di kantor. Selama ini memang lebih sering aku yang datang ke kantornya karena memang jalurnya searah dengan jalan pulang. Aku sering diledek teman-temannya karena kerap mendatangi dia untuk pulang bersama.
Mereka bilang,"Harusnya laki-laki dong yang jemput. Jangan mau disuruh jemput."
Jika sudah begitu, aku hanya senyum-senyum saja dan kadang berkata,"Nggak pa pa. Lagian jalannya searah."
Hubunganku sudah terlalu aneh untuk sekedar menjelaskan kenapa aku yang lebih sering mendatangi kekasihku. Jadi basa-basi adalah jalan terbaik. Sisanya, biar kekasihku yang menjelaskan sebisanya.
Ya, setelah dipikir berulang kali, hubungan kami memang terkesan aneh. Tanpa dijelaskan, saat teman-temanku tahu latar belakang kami, mereka pasti langsung bertanya,"Lha, terus ketemunya dimana?"
Saat aku jawab kami bertemu di kereta, mereka lantas geleng-geleng kepala. Sebenarnya tidak benar-benar di kereta, kami kenal oleh sebuah pertemanan tingkat dua (ingat friendster). Tapi perjalanan panjang yang membosankan di kereta telah memberi kami ruang untuk melewatkan "basa-basi teman baru" untuk lantas beralih ke "percakapan mendalam". Setelah itu, kami lantas berpikir bahwa kami berdua memang dilahirkan untuk saling mengisi.
Ah tidak, sudah pasti aku berbohong di kalimat barusan. Mana mungkin hubungan aneh diawali oleh perasaan saling mengisi. Hingga kini pun, aku tak pernah bisa tahan lama-lama membahas materi yang menjadi headline di koran tempatnya bekerja. Begitu pula ia. Mengingat bahwa aku tidak suka telur rebus atau harus makan nasi (bukannya donat) setelah seharian tidak makan, ternyata harus dibahas dalam diskusi lima menitan.
"Kamu tahu nggak kalo aku nggak suka telur rebus."
"Enggak.."
"Ya udah, sekarang aku kasih tahu ya. Aku nggak suka telur rebus."
"Iya…. Emangnya kenapa?"
"Kemarin kamu beliin aku nasi dengan telur rebus, sayang."
"Masak sih? Oh iya ya..hehehe.."
"Oh iya, aku itu juga nggak suka bla bla bla.."
Ya. Dia orang yang sangat fokus dengan pekerjaan dan dirinya. Aku sudah tahu itu sejak pertama kali dia menunjukkan foto-foto kucing dengan berbagai pose di HP-nya. Dan aku, sebaliknya, adalah seorang observer yang agak-agak berjiwa penyihir (garisbawah=agak). Keadaan tersebut berlangsung hingga kini. Hingga saat dimana ia harus memberikan sesuatu yang istimewa untuk menunjukkan perasaannya.
Setelah sms ku tidak dijawab, aku meneleponnya. Beberapa kali masuk mailbox. Tiba-tiba saja aku berpikir, apakah mungkin ia sedang membeli hadiah untukku? Aku mencoba meneleponnya lagi.
"Hallo.."
"Kamu dimana?"
"Matraman.." Gramedia Matraman, ucapku dalam hati.
"Sama siapa?"
"Umm..sendiri." Aduh boongnya. Aku menggumam lagi, tapi tetap dalam hati.
"Jadi ke kantor?"
"Dua puluh menit lagi ya."
"Oke.."
Klik..
Aku lantas berjalan menuju tempat editing dan langsung curhat ke temanku.
"Aduh, cowokku nggak kreatif banget deh. Masak beliin kadonya buku."
"Buku apa?"
"Belum tahu sih, belum juga dikasih."
"Kok udah tahu?"
"Dan yang lebih nggak kreatifnya lagi, musti bawa cewek gitu lho, buat bantu milih-milih."
"Berarti dia nggak kenal kamu dong. Nggak tahu apa yang kamu suka."
Aku berpikir sejenak. Maybe yes, maybe not. Tapi kalau merujuk teori di atas tentang sifatnya yang egosentris, aku pikir memang sangat sulit baginya untuk mengerti apa yang aku mau. Karena aku adalah observer yang terbiasa suka dengan segala hal dan menghindari favoritisme. Apa dugaanku salah dan ia ternyata membelikanku boneka imut atau kompas kecil di counter lantai satu? Enggak lah. He is so predictable. Setidaknya, begitulah pikirku pada awalnya.
"Aku tadi nganterin temen ke Gramed."
Aku berlagak tidak tahu.
"Kamu nggak nanya kenapa aku ke Gramed?"
Aku tetap sabar menunggu.
Dia menunjukkan wajah ingin ditanya.
"Kamu kan tahu kalo aku udah tahu." Aku tak benar-benar tak bisa berpura-pura. Tapi nampaknya ia juga tak sabar ingin menunjukkan hasil jerih payahnya.
Kado biru dengan bungkus biru telur asin disodorkan ke tanganku.
"Happy birthday ya sayang.."
Ada tiga tumpukan. Yang kecil di atas kupikir terjemahan Qur’an yang kecil. Dua bulan yang lalu aku memang sempat mengatakan kalau aku ingin beli terjemahan Qur’an yang kecil. Tapi mustahil ia bisa mengingat hingga sedetil itu. Akhirnya kuputuskan untuk membuka langsung saja kadonya.
Ternyata MP3 player.
"Kamu belum punya kan?" Matanya berharap. Tapi aku terlalu dingin untuk ukuran perempuan.
"Hmm..aku udah punya sayang. MP3 player sama digital voice recorder."
Lantas kulihat lapis kedua. Buku berjudul Toto Chan.
"Kamu belum punya kan?" Matanya kembali berharap. Tapi seperti kubilang, aku menyukai kebenaran.
"Aku udah punya juga, sayang. Tapi udah aku taruh di rumah."
Terakhir, buku Ayat-ayat Cinta tidak dibahas karena itu sebenarnya buku pesanan ayahku yang sudah kukatakan untuk segera dibeli karena aku mau pulang ke rumah bulan depan. Aku lantas bercerita soal tebakanku yang akurat mengenai hadiah apa yang akan ia berikan. Tapi ia terlihat sibuk dengan MP3 playernya, menyodorkan headphonenya ke telingaku, dan memaksaku mendengar sesuatu.
Ia ternyata merekam ucapan selamat ulang tahun yang manis dalam MP3 player sekaligus menyanyikan lagu yang pertama kali ia perdengarkan padaku, dengan iringan gitar miliknya. Aku menangis? Tentu saja tidak. Aku hanya tersenyum sambil sesekali memejamkan mata membayangkan malam itu. Malam dimana ia terlihat begitu menarik saat memainkan gitar dan bernyanyi.
"Aku tarik ucapanku tadi. Ternyata kamu kreatif." Ucapku setelah lagu indie di MP3 itu selesai. Setelahnya, kami menyelesaikan makan malam dan ia mendengarkan kembali suara yang ia rekam lantas berkata,"Ternyata suaraku bagus ya."
Ya. Kekasihku memang orang paling narsis di dunia. Tapi di sela-sela kenarsisannya, ia berusaha memahami dan mengenalku, lebih dari apa yang selama ini ia lakukan. Karenanya, tak ada alasan bagiku untuk menganggapnya tidak perhatian hanya gara-gara ia memberiku MP3 player sementara MP3 player pink milikku sudah sering ia lihat bergandengan bersama flash disk milikku. Karena aku sendiri toh hingga kini juga tak pernah hafal nomor teleponnya, hari jadian kami, desk/kompartemen ia sekarang, bahkan tanggal lahirnya saja aku lupa-lupa ingat. Bagiku, bagi kami, prioritas pertama bukanlah materi-materi turunan semacam itu. Yang pertama haruslah cinta. Dalam cinta, semua perbedaan akan lebur dan bersinergi menjadi perkara baik. Kesepahaman, rasa saling percaya, saling memahami, semua berasal dari cinta. Lagipula siapa bilang kami berbeda? Kami ini sama. Sama-sama malas seperti ulat keket. Hehehe. Dan untuk kalimat terakhir ini, kurasa tak perlu dijelaskan lebih jauh. ;p