Dan kini aku kehilangan teman-teman mayaku. Di saat langkah kaki berjalan menuruni bukit-bukit di So'e. Tongkang kecil lambat memecah ombak samudera Hindia. Aku berteman dengan angin darat.
Ketika tangan tak lagi lincah menekan tuts komputer. Aku alpa menyapa teman-temanku lewat kata-kata.
Ah. Hidup memang penuh pilihan sulit. Dulu aku bisa tertawa riuh hanya karena rentetan kata-kata yang seakan berubah menjadi wajahnya yang tertawa. Menemukan teman yang sempat hilang di belantara Kalimantan. Membicarakan mulai dari teori psikoanalisis sampai keinginan membuka privat bioskop.
Tapi kini aku juga menemukan sejuk diantara cekikikan orang Boti yang membicarakanku dalam bahasa Dawan.
Ucapan terima kasih karena diliput..
Sms yang menanyakan kapan datang lagi..
Sms minta kirim pulsa supaya bisa ngobrol..
Ah..
Lalu aku semakin jauh dengan pembahasan mengenai pengaruh BBM bagi masyarakat, bentrokan di Monas, dan perdebatan Sunni-Syiah atau Ahmadiyah. Aku hanya tahu kalau orang Karo itu tidak termasuk suku Batak. Atau bilangan biner yang dipakai sebagai simbol suku Dayak Bumi Segandu, adalah simbol penciptaan semesta.
Apakah aku semakin melayang-layang di udara, atau malah rapat menjejak sejarah? Hampir saja aku tak peduli tentang semua itu. Ada banyak hal yang harus hilang saat kau ingin mengisinya dengan yang baru. Dan itu menyedihkan.
.....
.....
.....
Jangan pernah katakan soal kesempatan yang jarang dinikmati orang lain. Saat ini aku hanya ingin mengeluh soal kehidupan lamaku. Di lain waktu, aku pasti akan riang bercerita bagaimana enaknya makan se'i yang dimasak di tungku api.