SETEGUK MOKE DI KAKI INERIE « about brain beauty and money



Google PageRank
   



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed




7/4/2008
SETEGUK MOKE DI KAKI INERIE

 

Rumah adat bagi suku yang satu ini, bukanlah sekedar tempat bernaung. Rumah adat adalah simbol persekutuan wilayah dan keluarga.

Saat itu bulan Mei baru menyapa Bajawa, Nusa Tenggara Timur. Di kaki gunung Inerie, sebuah upacara pemugaran rumah adat segera dimulai. Puluhan babi dan lima ekor kerbau, menjadi tanda pengorbanan bagi eksistensi klan bhogo metu.

 

Suku Ngada telah lama bermukim di Bajawa, Nusa Tenggara Timur. Mereka tersebar di setiap sudut kota Bajawa. Seluruh sendi kehidupan mereka lekat dengan simbol-simbol  dan ritual,  termasuk dalam upacara pemugaran rumah adat klan bhogo metu.

 

Upacara ini berpusat di kaki gunung Inerie. Undangan telah disebar ke seluruh kerabat yang terikat pertalian darah atau pernikahan. Upacara rumah adat ini seperti mengumpulkan kembali keluarga yang terserak, menuju tempat awal mula moyang mereka tiba, yaitu aimere. Setelah rapi berdandan dengan baju adat, beberapa keluarga datang ke halaman rumah tuan rumah. Kegembiraan bertemu kembali dengan sanak kerabat, diungkapkan dengan sangaza.

 

Sekilas sangaza terdengar seperti suara orang marah. Dengan mengacungkan pedang, wakil klan berteriak di mikorofon. Tapi teriakan ini sebenarnya tak lebih dari sebuah pantun perkenalan. Pemimpin rombongan menyebutkan berapa hewan kurban yang dibawa, dan dari klan mana mereka berasal. Setelah itu tari Ja'i pun dimulai untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar suku Bajawa. Tanpa sangaza dan tari Ja'i, anggota rombongan tidak akan boleh mengikuti ritual upacara adat.  

 

Gerakan tari Ja'i terkesan sederhana. Kaki bergerak mengikuti irama musik tradisional. Pada hitungan tertentu tangan yang memegang bulu ayam diacungkan seperti gerakan burung yang hendak terbang. Ya, Tari Ja'i memang melambangkan gerakan elang yang terbang bebas. Tapi kemanapun mereka terbang, pasti akan kembali ke sarang. Begitu pula suku Ngada. Mereka banyak merantau ke luar kota, bahkan ke negeri jiran. Namun sejauh apapun berkelana, mereka tetaplah anggota suku Ngada, yang terikat tata aturan adat. Terutama yang berkaitan dengan upacara adat.

"Hari ini puncak perayaan diadakan dengan kabuku Sao, robokei, ruwu pepo, dan lain sebagainya untuk mempersatukan, mempererat persatuan dan kesatuan antar welu epo maupun sewo ili (saudara sekandung maupun karena ikatan pernikahan)." Begitu ucap Titus Bhogo, tuan rumah acara.

Lalu ia menambahkan, "Yang datang tidak bisa hanya sekedar memenuhi adat. Prinsip leluhur, e sangatta mae masa. Kita panggil satu, semua harus datang. Biar lagi nasi dan daging, hanya sepotong saja jadi nikmat. Moke, kabo'o, makan sepiring kenyang. Ini melambangkan persatuan dan kebersamaan. Karena kita diikat oleh satu leluhur yang sama."

 

Begitu pentingnya kebersamaan, di tiap perjamuan tuan rumah harus selalu ikut makan. Begitu juga kerabat yang datang. Meski sedikit, setidaknya ada segenggam nasi atau seteguk moke (minuman tradisional NTT) yang dicicipi.  Perjamuan dalam upacara adat ini disebut bama, atau makan bersama.

 

Sekilas, tak ada yang istimewa di acara makan ini. Kerabat yang berpakaian adat rapi, makan lahap di sisi kanan pintu. Sementara itu kerabat lain duduk di kiri pintu, sambil menerima moke yang dituang di batok kelapa. Beberapa orang ada yang memilih duduk di beranda. Susunan ini bukan tanpa arti. Mereka masih terikat sistem kasta yang disebut rang. Pembedaan strata ini terlihat jelas saat acara adat seperti ini. Rang tertinggi yaitu rang ga'e, bisa duduk dimana saja. Sementara yang lain harus pintar mencari posisi yang sesuai.

 

Yang paling nyata, pembedaan kasta bisa dilihat dari perhiasan yang digunakan. Kasta selain ga'e tidak boleh menggunakan gelang gading atau perhiasan emas. Sistem kasta di suku ini tetap kokoh berlaku, tak tergusur oleh nilai lain termasuk agama.

Pater Ansel Doredae, pastor yang juga warga suku Ngada mengatakan bahwa keunikan sistem kasta di suku Ngada muncul dengan sendirinya tanpa pengaruh agama. Sistem ini muncul karena kebutuhan yang muncul dari dalam masyarakat itu sendiri. Hendrikus Nainawa, sesepuh suku Ngada juga menambahkan bahwa pada awalnya tak ada pembedaan kasta. Tapi huru-hara yang timbul akibat tindak kejahatan yang terjadi, ternyata dapat dihentikan oleh pembentukan kasta semacam itu. Akhirnya tradisi itu berlanjut hingga sekarang.

 

Meski percaya nenek moyangnya datang dari India, tapi adat istiadat mereka tampak lebur dengan budaya lokal. Termasuk sistem matrilinear atau garis ibu.  Simbol feminin terdapat di berbagai tempat-tempat penting suku Ngada. Di rumah adat utama terdapat perapian yang selalu dijaga oleh perempuan. Padahal tak sembarang orang bisa masuk ke rumah adat utama tersebut. Sistem matrilinear ini terkait dengan pola hidup suku Ngada. Jaman dulu kebanyakan dari mereka tinggal di hutan. Bahaya yang mengancam dari alam dan dari musuh, membuat mereka harus menjaga perempuan sebagai penerus keturunan.

 

Tak heran jika hingga kini lelaki suku Ngada menempati peran-peran aktif seperti menjadi ahli nujum atau pemimpin upacara. Sementara para perempuan tetap sibuk menjaga perapian. Bara api di dapur utama ini tak boleh sedetikpun mati. Mereka percaya jika bara api sampai mati, maka akan terjadi hal buruk di keluarga tersebut.

 

Yang paling menarik dari pesta adat klan bhogo metu ada di hari kedua.  Pagi-pagi sekali panitia mengumpulkan ternak kerbau di tiang pamali. Upacara penebasan binatang ternak hanya bisa dimulai jika sudah mendapat restu dari kakak tertua tuan rumah,

Menurut pengakuan tuan rumah, Titus Bhogo, di masa lalu saat upacara pemugaran rumah adat, halaman bisa penuh sesak oleh ratusan kerbau dan babi. Tapi jaman sekarang mereka mengaku sudah mengikuti saran dari pemerintah daerah.

"Kita sekarang mengadakan pesta adat lebih santun dan lebih terhormat." Begitu ucapnya sambil menyisip moke dari batok kelapa.

 

Hari cerah pertanda baik bagi upacara potong kurban atau kaba mano. Namun kelihatannya hati tuan rumah belum yakin, bila belum memastikannya lagi lewat nujum yang diadakan di bhaga. Kembali nujum dilakukan, tapi kali ini menggunakan media anak ayam. Setelah dibakar di api, urat daging anak ayam dibaca oleh sang ahli nujum. Di hari pertama upacara, pembacaan di hati babi mengguratkan ganjalan karena ada setetes darah tumpah. Nujum tersebut terbukti hari ini. Tak lama setelah prosesi penebasan kepala kerbau, beberapa kerabat ada yang pulang dari acara karena hendak melayat keluarga lain yang meninggal.

 

Kepercayaan terhadap simbol juga terlihat dari begitu hormatnya mereka terhadap simbol nenek moyang. Bhaga yang berbentuk seperti rumah kecil adalah simbol ibu yang menaungi segenap suku Ngada. Sementara itu Ngadu tempat kerbau ditambat adalah simbol bapak suku. Bentuk Ngadu seperti payung yang dibuat dari jerami.  

 

 

Sejatinya, di upacara semacam inilah kekuatan anggota suku Ngada dilatih. Kerbau adalah hewan yang mampu mewakili kekuatan musuh-musuh mereka. Di masa lalu, kekuatan dan kekompakan adalah dua syarat mutlak untuk bisa bertahan hidup.

 

Meski tak lagi berhadapan dengan masa lalu, tak banyak yang berubah dari adat suku Ngada. Norma, tata aturan dalam upacara, hingga pembagian hewan kurban pun masih tetap sama. Tuan rumah mendapat bagian kepala dan salah satu kaki. Daging sisanya dikumpulkan di satu tempat, dipotong-potong, dan pada akhirnya dibagi kembali ke para kerabat. tanduk kerbau nantinya akan digantung di bhaga dan rumah adat.

 

Darah kerbau yang ditampung di bambu, dioleskan di tiang pemali sebagai wujud penghormatan kepada nenek moyang.  Bagi mereka merahnya tiang pemali dan deretan tanduk kerbau adalah tanda keutuhan dan eksistensi masing-masing klan. Tradisi sesajian ini diperkirakan telah ada sebelum budaya megalitikum masuk.

 

Menurut Pater Ansel, pastor sekaligus antropolog, sesajian itu untuk dipersembahkan kepada wujud tertinggi atau roh. Dulu biasa dilakukan di dalam rumah adat. Setelah kultur megalitikum tiba, datang bersama migrasi di suku Ngada, upacara adat semacam ini dipindahkan atau dilokalisir di mezbah-mezbah.

 

Tradisi memberi kurban persembahan tampaknya berpengaruh terhadap keseharian suku Ngada. Bagi mereka, pantang memotong hewan lantas memakannya sendiri tanpa berbagi. Karena itu meski upacara pemugaran rumah adat ini hanya ditujukan bagi keluarga, mereka juga mengundang klan lain di sekitar kampung.

 

Para tetua dari klan lain pun menyambut undangan itu dengan gembira.  Sesaat setelah undangan disampaikan, mereka berkumpul di depan rumah adat dan menyanyikan lagu perkenalan.

 

Lengkap sudah kegembiraan tuan rumah. Bersama para tetua akhirnya ia memulai prosesi terakhir. Ia berjalan mengiringi tandu yang diisi nasi. Nasi dalam wadah besar tersebut dibawa mengelilingi Ngadu, bhaga, dan mezbah. Klan lain mengikuti iring-iringan tuan rumah, dengan membawa tandu berisikan nasi juga. Hanya saja jumlahnya tak seragam, disesuaikan dengan kemampuan tiap klan.

 

 

Kebersamaan semacam ini bisa bertahan karena pembauran yang rumit antara adat dengan agama. Hanya di tempat inilah ditemukan lukisan Yesus dipajang di kepala karena alasan mode. Meski begitu, gotong royong dalam menjalani upacara juga cermin utuh ajaran katolik, agama yang mayoritas dipeluk suku Ngada saat ini. Pun, acara puncak ditutup dengan makan bersama yang menyerupai perjamuan agung.



Untuk prosesi terakhir ini, Pater Ansel berkomentar bahwa selain  pertentangan, ada juga praktek suku bangsa asli yang paralel dengan ajaran katolik. Seperti misalnya upacara-upacara kurban. Sesajian di mezbah pun mirip dengan sesajian di altar gereja Katholik. Karena itulah, masih menurut Pater Ansel, kultur ini bertahan meski kadang bercampur secara sewenang-wenang dengan ajaran agama.

 

Meski hubungan antara adat dan agama tampaknya begitu rumit, namun tak ada yang terlalu ambil pusing akan masalah ini. Bagi mereka kelangsungan hidup suku Ngada lebih bergantung pada bagaimana cara mereka mempersatukan diri dalam satu aturan yang sama. Upacara pemugaran rumah adat bernama Sao Longa Zia yang diakhiri dengan makan bersama, tentu saja hanya simbol dari kebersamaan itu sendiri. Nasi yang dimasak tidaklah sampai tanak. Daging pun hanya direbus seperlunya. Setelah dibagi, mereka akan kembali mengolah makanan tersebut sesuai dengan selera masing-masing.  Tapi selama dua hari ini, mereka telah menemukan kembali sanak kerabat yang terpencar di berbagai penjuru. Kegembiraan yang begitu hangat. Seperti hangatnya seteguk moke di tengah pelukan udara dingin gunung Inerie.

 

Posted at 09:12 pm by erra

lamanday
July 10, 2008   06:18 PM PDT
 
makan bersama yang menyerupai perjamuan agung?

hehe...

*akhirnya ada posting lagi...
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry