Hari itu aku terlibat salah paham dengan seseorang. Aku pikir ia hendak mengajakku hang out dengan teman-temannya. Tapi ternyata itu adalah acara jumpa pers yang dirancang santai.
Tak perlu aku jelaskan bagaimana salah paham itu terjadi. Yang pasti tiba-tiba aku sudah berada di sebuah acara makan malam mewah berbalut puji-pujian kepada seorang pengusaha muda sukses. Sementara yang lain berjas dan berpakaian resmi, aku hanya memakai sepatu keds, celana jeans, dan kaos oblong bertuliskan "suku anak dalam".
Awalnya aku tak merasa ada yang salah dengan hal itu. Justru itulah aku. Seorang pekerja lapangan yang keluar masuk hutan atau ladang. Tapi malam itu, aku merasa untuk menggerakkan kaki saja rasanya canggung. Diantara kumpulan orang-orang berbaju resmi, aku seperti boneka sawah diantara bulir-bulir padi. Jelek, kumal, dan mencolok! Sejenak aku bahkan berpikir jika menahan napas, mungkin aku bisa menghilang tiba-tiba. Jelas saja itu hal yang mustahil. Akhirnya aku mengirimkan pesan pendek kepada seseorang yang mengajakku. Ia tengah sibuk mencari nara sumber di tengah kerumunan para pengusaha muda.
"Gosh, I'm lost in space… "
Lost in space. Kata-kata itu juga sempat terucap seorang teman yang tak kunjung mendapat kepastian kerja di kantorku. Ia seorang kameramen handal yang bekerja penuh dedikasi. Tapi kebijakan kantor, membuat ia susah mendapatkan sepotong seragam. Sepotong pengakuan. Karena itu ia enggan datang ke kantor hanya karena terlihat beda. Dulu aku tak paham bagaimana keminderan itu bisa muncul. Ia kenal hampir separuh rekan di kantor. Dan mereka semua mengakui hasil kerjanya. Tapi sejak pengalaman hari yang aneh ini, aku bisa memahami hal itu.
Seragam. Keseragaman. Entah itu berbentuk baju atau kesamaan ide, adalah hal pertama yang akan dilihat saat hendak memasuki sebuah komunitas tertutup. Kedatangan orang asing, entah apa motivasinya, akan dianggap aneh. Seperti malam itu, aku ditanya oleh seorang PR.
"Darimana mbak?"
"umm…" Aku sedang tak memakai seragam kantorku. Dan jelas, aku memang tak akan bisa mengaku dari media, karena aku tidak sedang ditugasi meliput. Dan rasanya aneh sekali mengaku datang hanya karena diajak seorang teman. Tapi itulah yang kukatakan. Si PR man lantas berpaling tanpa menanyai apapun tentangku, motivasiku datang atau apa sajalah yang membuatku merasa memiliki hak membela diri. Rasanya ingin menjerit saja sekalian dan membuat mereka semua tahu bahwa aku adalah intruder. Lalu mereka mengusirku keluar sehingga aku bisa segera menghirup napas kebebasan di luar sana. Tapi itu hanya berlaku di film-film. Dunia nyata lebih erat mengikatku dalam norma-norma. Terutama kewajiban menjaga nama baik orang yang telah mengajakku ke tempat itu. Aku pun memaku kaki di satu tempat sambil mengirit persediaan air minum di gelasku. Jika habis, niscaya tak akan ada 'pekerjaan penting' lagi yang bisa kulakukan.
Sambutan demi sambutan diucapkan orang-orang yang tak memiliki arti dalam otakku. Pengusaha ini, pengusaha itu. Bosku saja tak kuanggap penting, terlebih saat mengingat keadaan suku anak dalam di Jambi. Padahal malam itu ia datang diantara kerumunan pengusaha-pengusaha sukses dalam negeri. Aku hanya bisa mengingat wajah pengusaha yang dielu-elukan oleh mereka.
Acara ramah tamah pun selesai dan aku diajak ke ruang makan. Ia berkata hendak bertemu pengusaha muda, dan itu artinya adalah press release. Aku seharusnya tanggap dan menolak ajakannya untuk masuk. Tapi aku terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga tak mengerti maksudnya. Salah paham kedua pun terjadi. Aku kembali masuk ke dalam komunitas khusus. Dimana seorang asing akan sangat mudah terlihat bedanya. Terlanjur basah kuyup. Aku hanya bisa diam sambil berusaha menikmati keanehan itu.
Disini aku sadar, segala kelebihanku apapun itu, sama sekali tak bernilai di tempat ini. Fakta bahwa aku juga seorang jurnalis, tertampik begitu saja. Aku pernah membuat novel? Sama sekali tidak penting. Itu adalah acara khusus untuk wartawan ekonomi dan aku jelas-jelas tak punya kepentingan disitu.
Tiba-tiba aku berpikir, mungkin seperti ini pula yang terjadi kala kita mati. Beberapa hal yang terlihat membanggakan di dunia, belum tentu diperhitungkan di alam akhirat nanti. Mungkin pencapaianku hingga bisa membuat beberapa episode di televisi akan luput ditanyakan malaikat disana. Menurut cerita, mereka akan lebih konsentrasi menanyakan sikapku dalam menghadapi orang yang kesusahan. Pengemis di jalan, tetangga yang tertimpa musibah, atau teman yang butuh pertolongan. Atau bisa jadi, ia akan menanyakan hal sederhana. Apa yang kau lakukan saat temanmu mengeluh tentang pembedaan perlakuan yang ia terima hanya karena tidak memakai seragam?
"Aku menyuruh ia bersabar dan mencegahnya melakukan hal-hal frontal."
Di hari yang aneh itu aku memang berhasil mencegah diriku sendiri untuk berteriak atau kabur tiba-tiba. Tapi tetap saja ada rasa kesal di hati yang tak hilang-hilang. Khayalan tentang pertanyaan malaikat itu saja yang meredam perasaanku yang campur aduk.
Dan jangan herankan bagaimana aku bisa berpikir sejauh itu. Semua sudah terlanjur aneh. Jadi berpikir sedikit aneh, takkan jadi masalah besar.
Yang pasti, seaneh apapun sebuah hari, ia akan tetap setia memberi pelajaran bagi hidup. Dan di hari itu, kudengar ia berbisik tentang sisi lain kehidupan. Kehidupan orang-orang yang 'tak terlihat' oleh mata kita. Itu saja. Dan tiba-tiba aku merasa bisa menertawakan kejadian di hari itu.